Jumat, 22 April 2011

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan Tanaman Obat Keluarga di Desa Pulau Sapi Kecamatan Mentarang Kabupaten Malinau



I.         PENDAHULUAN

I.I.  Latar Belakang
Sebagian besar penduduk di Indonesia masih banyak yang tinggal di pedesaan atau di daerah pegunungan yang pada umumnya masih belum terjangkau oleh pelayanan kesehatan yang memadai, baik dari pemerintah maupun swasta. Mereka masih banyak yang berekonomi lemah atau kurang mampu. Di daerah seperti itu umumnya masih sedikit atau sulit ditembus dengan peredaran obat yang harganya semakin mahal. Padahal problem kesehatan disana sangat berfariasi dan ada kalanya sulit pula cara penanggulangannya.
 Posisi semacam inilah obat tradisional ditampilkan sebagai salah satu pengobatan alternatif yang sangat penting artinya, khususnya untuk penanganan/pelayanan kesehatan primer (PKP), baik sebagai obat preventif  maupun sebagai pengobatan (kuratif).
Pengobatan tradisional dengan menggunakan tanaman obat tidaklah asing bagi masyarakat Indonesia, karena sebelum rakyat Indonesia merdeka pun, masyarakat pelosok desa sudah menggunakan tanaman obat tersebut hingga sekarang, pengobatan tradisonal masih diakui keberadaannya di kalangan masyarakat luas. Ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang terus membina dan mengembangkannya, penanganan/pelayanan kesehatan primer (PKP), baik sebagai obat preventif maupun sebagai pengobatan tradisonal.
Tanaman obat merupakan salah satu unsur penting dalam upaya pelaksanaan pengendalian kesehatan. Tanaman obat sudah dikenal sejak dahulu dalam pengobatan tradisional, namun pengunaannya sebagai bahan baku belum dimanfaatkan secara optimal, sedangkan upaya yang telah dilakukan masih tertuju kepada khasiat dan kegunaannya saja.
Hal ini didukung oleh kebijakan Departemen Kesehatan RI tentang pengobatan tradisional seperti yang tercantum dalam UU No 23 tahun 1992 pasal 47 tentang pengobatan tradisional dan dalam Kepmenkes No 1076/SK /VII/2003 tentang peyelenggaraan pengobatan tradisional yang menggunakan tanaman obat-obatan. Indonesia sebagai negara kepulauan merupakan kawasan yang kaya dengan keaneka ragaman hayati. Sampai saat ini telah diketahui sekitar 30.000 jenis tumbuhan yang tumbuhan liar maupun yang sudah dibudidayakan, sebagai tanaman obat tradisonal. Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM, 2003).
 Program pemerintahan  Kabupaten Malinau yaitu Gerakan Pembangunan Desa Mandiri (Gerbang Dema) salah satu pilarnya adalah memprioritaskan pembangunan yaitu peningkatan pertanian secara luas dan usaha pemberdayaan ekonomi keluarga,  pengembangan tanaman obat keluarga melalui kelompok ibu-ibu Dasa Wisma, PKK di tingkat ibu-ibu rumah tangga dan  dikelola oleh masing-masing desa, salah satu program desa yang dikembangkan oleh ibu-ibu PKK adalah tanaman obat keluarga (TOGA).
Pengembangan TOGA bertujuan untuk meningkatkan pendapatan keluarga pengembangan TOGA dipengaruhi oleh banyak faktor, baik yang bersifat menunjang maupun menghambat. Dari latar belakang masalah di atas maka peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai “Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan Tanaman Obat Keluarga di Desa Pulau Sapi Kecamatan Mentarang Kabupaten Malinau” dengan menilai faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan tanaman obat keluarga faktor manajemen permodalan, sumberdaya manusia, produksi, dan permintaan.

I.2.  Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas maka dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut:
1.    Bagaimana manajemen permodalan, produksi, permintaan dan sumberdaya manusia usaha TOGA di Desa Pulau Sapi Kecamatan Mentarang Kabupaten Malinau.
2.      Bagaimana pengaruh faktor-faktor pengembangan TOGA terhadap penerimaan/pendapatan.
1.3.  Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai  dalam penelitian ini adalah :
1.      Untuk mengetahui kondisi  manajemen permodalan dan produksi usaha Toga di Desa Pulau Sapi Kecamatan Mentarang Kabupaten malinau.
2.     Untuk mengetahui pengaruh faktor manajemen permodalan, produksi, permintaan, SDM terhadap penerimaan/pendapatan tanaman usaha Toga di Desa Pulau Sapi Kecamatan Mentarang Kabupaten Malinau.
1.4.  Manfaat Penelitian
Adapun yang menjadi manfaat penelitian ini diharapkan memiliki manfaat:
1.    Sebagai  informasi bagi lembaga pemerintah yang terkait dalam menentukan kebijaksanaan di bidang pengembangan tanaman obat tradisional dalam upaya meningkatkan taraf  hidup masyarakat.
2.    Bahan informasi bagi penulis dan peneliti lain yang akan melanjutkan dan mengembangkan penelitian ini.
 II.  TINJAUAN PUSTAKA

2.1.  Faktor- faktor yang mempengaruhi pengembangan (TOGA)
Dalam pegembangan sebuah usaha tidak terlepas dari berbagai macam faktor pendukung untuk pengembangan usaha tersebut seperti faktor manajemen permodalan, produksi, sumberdaya manusia, dan permintaan agar usaha tersebut dapat dijalankan sesuai yang diharapkan.
 Faktor-faktor adalah sesuatu hal yang ikut mempengaruhi terjadinya sesuatu faktor. Faktor yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hal-hal yang mempengaruhi terjadinya ketahanan dan perkembangan usaha pengembangan toga sehingga tetap di kembangkan sampai sekarang. Faktor-faktor tersebut seperti: faktor manajemen permodalan, faktor produksi, faktor permintaan dan faktor  sumberdaya manusia (Poerwadarminta, 2002).

2.1.1        Faktor Manajemen Permodalan
Menurut Rulanti (1997),  istilah manajemen adalah pemodalan usaha. pengelolaan yang dimaksud adalah cara penanganan suatu usaha atau lembaga dalam suatu proses kegiatan secara rapi melalui kerja sama dengan orang lain agar tercapai. Pengelolaan atau manajemen adalah suatu kegiatan atau serangkaian tindakan atau proses untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, melalui kerjasama dengan orang lain. Keuntungan semaksimal mungkin. Permodalan merupakan aspek yang terpenting dalam  usaha pemerintah dalam mengatasi masalah permodalan dalam usaha pengembangan usaha kecil menengah antara lain:
Pemerintah memberikan bimbingan dan penyuluhan tentang permodalan,
administrasi dan pembukuan usaha melalui program diklat yang diikuti oleh para pengrajin toga.
            Tujuan manajemen adalah untuk mengelola faktor produksi yaitu tanah, modal dan tenaga kerja, manajemen akan berpengaruh langsung pada produksi. Menurut Mubyarto (1994), menyatakan bahwa petani adalah pemimpin dalam usahataninya yang memiliki peranan penting dalam pengelolaan usahataninya. Ditambahkan (Daniel, 2002), petani sebagai pengelola atau menejer harus mampu memaksimalkan produk dengan mengkombinasikan faktor produksi yang ada semakin baik pengelolaan atau manajemen suatu usaha pertanian, maka akan semakin tinggi hasil produksi yang diperoleh. Dalam prakteknya, faktor manajemen banyak dipengaruhi oleh beberapa aspek yaitu tingkat pendidikan, ketrampilan, besar kecilnya kredit, skala usaha, dan macam-macam komoditi.
Fungsi pengelolaan atau manajemen adalah untuk dapat mencapai keteraturan, kelancaran dan kelangsungan usaha serta agar orang dapat bekerja secara efisien sehingga dapat mencapai efisiensi.
2.1.2.      Produksi
       Produksi adalah usaha manusia untuk menciptakan dan menambah nilai barang atas barang-barang agar berguna bagi manusia atau dengan kata lain usaha yang akhirnya dapat menambah faedah dari barang (Tohir, 1983),
       Menurut Boediono (1992), memperjelas pengertiannya tentang produksi yaitu suatu proses penciptan barang dan jasa yang di sebut faktor produksi (input) yang kemudian diubah menjadi barang atau jasa yang disebut hasil-hasil produksi (output) yang secara langsung atau tidak langsung dapat memenuhi kebutuhan manusia.
       Faktor produksi adalah semua korbanan yang diberikan pada tanaman agar tanaman tersebut mampu tumbuh dan menghasilkan dengan baik. Diberbagai literatur, faktor produksi ini dikenal pula dengan istilah input, production factor, dan korbanan produksi Soekartawi (2001).
       Menurut Soekartawi (1993), faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu :
1.                Faktor biologi, seperti lahan pertanian dengan macam dan tingkat kesuburannya, bibit, varietas, pupuk, dan pestisida.
2.                Faktor sosial ekonomi, seperti biaya produksi, harga, tingkat pendidikan, tenaga kerja, tingkat pendapatan, resiko ketidakpastian, kelembagaan, tersedianya kredit dan sebagainya.
            Menurut Mubyarto (1994), dalam kegiatan produksi tidak hanya memperhitungkan jumlah produksi fisik saja, tetapi juga memperhitungkan foktor-faktor produksi yang digunakan sehingga tercapai produksi yang optimal. Tingkat produksi optimal diperoleh pada saat keuntungan maksimal, yang terdapat pada tingkat produksi yang memberikan selisih paling besar antara penerimaan dengan biaya produksi.
Peran pemerintah dalam pengadaan bahan baku untuk proses produksi toga yaitu  Pemerintah membangun kawasan berikat sebagai suatu kawasan yang membuka peluang dan kemudahan sebesar-besarnya bagi usaha – usaha yang memerlukan bahan baku obat-obat herbal.
2.1.3.      Sumberdaya Manusia
            Sumberdaya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor penyebab dalam pengembangan usaha di bidang pertanian (Toga), hal ini merupakan penyebab jika  semakin rendahnya tingkat sumberdaya manusia (pendidikan formal) maka dapat mempengaruhi tingkat pengembangan usaha masyarakat ditingkat Desa khususnya di bidang pertanian.
            Pendidikan dalam arti luas mencakup pendidikan formal, non formal ataupun informal. Ketiga jenis pendidikan ini sulit dipisakan karena saling berkaitan dan saling menunjang. Pendidikan formal pelaksanaannya di sekolah-sekolah dari taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi, pendidikan non formal di lakukan dalam keluarga atau kelompok masyarakat. Sedangkan pendidikan informal pelaksanaannya berupa kursus-kursus ketrampilan, pembentukan kepribadian dan karakteristik seseorang dapat dipengaruhi oleh ketiga lingkungan tersebut yaitu sekolah, masyarakat, dan keluarga (Hartono, 1985).
            Menurut Soekartawi (1995), pendidikan mempunyai posisi strategis dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia karena mempunyai potensi yang signifikan terhadap kehidupan masa depan. Potensi yang dimaksud adalah:
-            Pendidikan penting karena menyediakan wahana untuk implementasi nilai-nilai pada masyarakat yang berubah.
-            Pendidikan meningkatkan kemampuan untuk menerima dan mengimplemen- tasikan alternatif-alternatif baru.
-            Pendidikan dapat dipakai untuk menanggulangi masalah sosial tertentu.
           Menurut Sugihen (1996), mengemukakan ada beberapa hal yang menjadi penyebab tingkat pendidikan masyarakat pedesaan masih rendah, yaitu:
-            Masih rendahnya tingkat ekonomi keluarga.
-            Adanya asumsi yang berkembang di sebagian besar keluarga petani bahwa ketrampilan mengolah lahan lebih utama dari pada sekolah.
                        Keterbatasan pendidikan tersebut membuat petani tidak biasa lebih maju karena mereka tidak mempunyai ketrampilan yang dalam mengolah lahan dalam arti memberi nilai tambah, memperbaiki mutu atau menyimpan hasil produksi tanamannya.
Hubungan pendidikan dan produktivitas kerja tercermin dalam tingkat pendapatan. Pendidikan yang lebih tinggi mengakibatkan produktivitas kerja meningkat dan oleh sebab itu memungkinkan pendapatan yang lebih tinggi pula. Sedangkan semakin banyak latihan semakin banyak pengetahuan, pengalamannya sehingga pada akhirnya meningkatkan produktivitas.
    
2.1.4.      Permintaan
Menurut Krugman and Obstfeld (2001), implikasi dari  pemerintah mendorong industri-industri ekspor agar secara terus menerus  meningkatkan penggunaan komponen bahan baku lokal yang tinggi sehingga pertumbuhan ekonomi dari dorongan ekspor tidak harus diimbangi dengan peningkatan permintaan impor.
Perilaku permintaan terhadap impor bisa dianalisis melalui dua pendekatan yaitu sisi permintaan agregat (aggregate demand) maupun sisi pengeluaran agregat (aggregate expenditure). Pendekatan pertama merupakan aliran utama di dalam menganalisis perilaku permintaan impor. Pada pendekatan permintaan agregat ini permintaan impor merupakan fungsi dari variabel permintaan barang. Variabel permintaan impor terdiri dari variabel pendapatan dan harga barang impor. Pendapatan akan berpengaruh positif sedangkan harga akan berpengaruh negatif terhadap permintaan impor.
Menurut McEachern (2000), permintan pasar suatu sumberdaya adalah penjumlahan seluruh permintaan atas berbagai penggunaan sumberdaya tersebut. Sedangkan permintaan adalah berbagai kombinasi harga dan jumlah suatu barang yang ingin dan dapat dibeli oleh konsumen pada berbagai tingkat harga untuk suatu periode tertentu. Hukum permintaan menyatakan bahwa jumlah barang yang diminta dalam suatu periode waktu tertentu berubah berlawanan dengan harganya, jika hal lain diasumsikan tetap sehingga semakin tinggi harganya, semakin kecil jumlah barang yang diminta atau sebaliknya "Semakin kecil harganya, semakin tinggi jumlah barang yang diminta (Samuelson, 1998).

2.2.      Tinjauan Umum Tanaman Obat Keluarga (TOGA)

2.2.1.   Definisi Tanaman Obat Keluarga (TOGA)
Pada hakekatnya upaya pengobatan tradisional di Indonesia merupakan bagian dari budaya bangsa yang diturunkan dari generasi terdahulu ke generasi berikutnya, baik secara lisan maupun secara tertulis/dibukukan. Sementara ilmu pengobatan itu sendiri ada yang berasal dari warisan nenek moyang dalam negeri dan dari luar negeri.
Toga ialah tanaman Obat Keluarga, dahulu disebut sebagai “Apotik Hidup”. Dalam pekarangan atau halaman rumah di tanam beberapa tanaman obat yang digunakan secara empirik oleh masyarakat untuk mengatasi penyakit atau keluhan- keluhan yang dideritanya. Beberapa tanaman obat telah dibuktikan efek
farmakologinya pada hewan  dan beberapa tanaman telah dilakukan uji klinik.
Berbeda dengan negara-negara seperti Cina, Korea, India dan Srilangka yang memberlakukan cara dan pengobatan tradisional di dalam sistem pelayanan kesehatan formal, maka di Indonesia pada saat ini upaya pelayanan pengobatan tradisional dengan obat tradisionalnya berperan pada tingkat rumah tangga dan tingkat masyarakat. Sedang pada tingkat pertama fasilitas pelayanan, tingkat rujukan pertama dan rujukan yang lebih tinggi upaya pelayanan kesehatan dilakukan melalui pelayanan kesehatan formal. 
Hingga sekarang, pengobatan tradisional masih diakui keberadaannya dikalangan masyarakat luas. Ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang terus membina dan mengembangkannya. Salah satu pengobatan tradisional yang sedang trend saat ini adalah ramuan tanaman obat secara empirik, ramuan tradisional  dengan tanaman obat paling banyak digunakan oleh masyarakat. Penggunaan ramuan tradisonal tidak hanya untuk menyembuhkan suatu penyakit, tetapi juga untuk menjaga dan memulihkan kesehatan (Sudibyo, B. R. 2006).
Hasil produksi tanaman bahan jamu merupakan bahan baku untuk industri obat tradisional baik skala besar dan menengah-seperti Industri Jamu Ny. Meneer, Cap Jago, dan lain-lain- juga industri kecil obat tradisional dan industri rumah tangga jamu tradisional (jamu gendong). Bahan dari tanaman yang dipergunakan sebagai obat baik dalam bentuk bahan asli atau yang sudah dikeringkan disebut sebagai simplisia. Selain sebagai simplisia, hasil produksi tanaman bahan obat juga digunakan sebagai bahan bumbu masakan baik ditingkat rumah tangga atau rumah makan. Sebagai pengguna simplisia, pada tahun 2002 terdapat sejumlah 118 Industri Obat Tradisional dan 917 Industri Kecil Obat Tradisional (Badan POM, 2003).  Perdagangan tanaman obat di Indonesia pada tahun 1990 saja menurut Roekmiyanto, mencapai 38.230,9 ton. Berdasarkan Badan POM (2003), penggunaan simplisia untuk 20 jenis bahan baku jamu dan obat yang digunakan oleh 9 unit IOT skala besar berjumlah 1.841.802 ton. Sebanyak 15 jenis di antara 20 jenis simplisia tersebut berjumlah 1.658.262 ton.
Beberapa jenis tanaman bahan jamu, terutama jahe dan kunyit sudah merupakan komoditi ekspor, baik dalam bentuk rimpang (segar dan kering) maupun olahannya. Ekspor dalam bentuk segar relatif mengalami penurunan, namun ekspor dalam bentuk hasil olahan mengalami peningkatan setiap tahunnya. Sebagai gambaran sektor hasil produksi tanaman bahan jamu  Produk tanaman bahan jamu telah diekspor ke lebih dari 24 negara, namun beberapa negara tercatat belum dilakukan secara kontinu. Beberapa negara yang relatif kontinu sebagai pasaran ekspor produk bahan jamu adalah negara Bangladesh, Belanda, India, Jepang, Jerman, Malaysia, Pakistan, Saudi Arabia, Singapura, Thailand, Uni Emirat Arab dan USA. Pangsa pasar terbesar adalah ke negara Malaysia, Singapura, Jepang dan Saudi Arabia.
Penggunaan tanaman obat tradisional hingga sekarang masih sangat diwarnai oleh penggunaan sendiri oleh masyarakat, yakni untuk “self medication”. Bentuknya adalah yang langsung dapat diminum, seperti jamu gendong atau jamu dari penjual. di kios-kios. Selain itu, juga jamu berbungkus yang dibuat oleh industri rumah tangga. Diantara tumbuhan obat tradisional banyak yang hampir punah, sehingga kalau sewaktu-waktu dibutuhkan sulit diperoleh. Padahal khusus meningkatkan penggunaan tumbuhan obat tradisional, pemerintahan telah menggalakan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang telah dimasyarakatkan oleh Lembaga Tanaman Obat Keluarga yang telah dimasyarakatkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dalam hal ini antara lain oleh PKK yang sekaligus berfungsi menghijaukan lingkungan atau melestarikan sumberdaya hayati. Namun program TOGA nampaknya masih belum berhasil, sehingga perlu ditingkatkan permasyarakatannya.
TOGA adalah singkatan dari tanaman obat keluarga, yaitu berbagai jenis tanaman yang dibudidayakan baik di halaman, pekarangan rumah, ladang atau di kebun. Tanaman tersebut sebagai Apotek Hidup yang dapat memenuhi keperluan keluarga akan obat-obatan (Hanna, 2006). Jenis tanaman yang dibudidayakan sebagai TOGA adalah tanaman yang tidak memerlukan perawatan khusus, tidak mudah diserang hama penyakit, bibitnya mudah didapat, mudah tumbuh dan tidak termasuk jenis tanaman terlarang dan berbahaya/beracun. Pemanfaatan TOGA lazimnya untuk pengobatan gangguan kesehatan keluarga menurut gejala-gejala umum seperti demam panas, batuk, sakit perut, gatal-gatal (Wakidi, 2003).
melalui instansi terkait seperti Dinas Kesehatan dengan kerjasama PKK dapat melakukan sosialisasi terhadap program TOGA bagi menunjang upaya peningkatan kesehatan oleh masyarakat secara optimal.
2.2.2.  Jenis – Jenis TOGA
Jenis tanaman yang harus dibudidayakan untuk tanaman obat keluarga adalah jenis-jenis tanaman yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
a.       Jenis tanaman yang lazim digunakan sebagai obat didaerah pemukiman.
b.      Jenis tanaman yang dapat tumbuh dan hidup dengan baik di daerah pemukiman.
c.       Jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain misalnya: buah-buahan dan bumbu masak
Jenis tanaman obat yang dimanfaatkan adalah tanaman yang sudah lazim di tanam di pekarangan rumah atau tumbuh di daerah pemukiman.  Pemanfaatan Tanaman Obat Dep. Kes RI Edisi III. 1983 adalah :
Kumis Kucing             : Orthosiphon Stamineus Benth
Kunyit                         : Curcuma Demestica Val
Lengkuas                     : Languas Galanga (L.)
Lidah buaya                :  Aloe Vera L  
Temu giring                 : Curcuma Heyneana Val & V.Zip
Temu lawak                 : Curcuma Xanthorrhiza (Roxb)
Jahe                             :  Zingiber officinale (Roxb)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar