Jumat, 22 April 2011

PARTISIPASI ANGGOTA KELOMPOK TANI DALAM PROGRAMA PENYULUHAN DI DESA KALAMPISING KECAMATAN LUMBIS KABUPATEN NUNUKAN

I.  PENDAHULUAN

I.I.  Latar Belakang
            Kebijakan yang ditempuh pemerintah untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional diantaranya ialah dengan peningkatan kehidupan ekonomi yang dilakukan melalui pembangunan pertanian. Hal ini sesuai karena negara Indonesia adalah negara agraris dan sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah bercocok tanam (Hernanto, 2001).       
Seiring dengan perkembangan pembangunan pertanian, agar efektif  dalam menjalankan programa penyuluhan, maka dibentuklah kelompok-kelompok tani yang diharapkan dapat berfungsi sebagai wadah yang dapat memotivasi petani sebagai anggotanya untuk lebih aktif dan berperan dalam berbagai kegiatan guna mengembangkan dan meningkatkan usahataninya. Pembinaan usahatani melalui kelompok tani tidak lain adalah sebagai upaya percepatan sasaran yaitu petani yang banyak jumlahnya dan kawasan pedesaan yang tersebar dan luas, sehingga dalam pembinaan kelompok diharapkan tumbuh cakrawala dan wawasan kebersamaan memecahkan dan merubah citra usahatani sekarang menjadi usahatani masa depan yang cerah.
            Adapun tujuan dibentuknya kelompok tani adalah untuk lebih meningkatkan dan mengembangkan kemampuan petani dan keluarganya sebagai subjek pendekatan kelompok, agar lebih berperan dalam pembangunan. Aktifitas usahatani yang lebih baik dapat dilihat dari adanya peningkatan dalam produktifitas usahatani yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan petani sehingga akan mendukung terciptanya kesejahteraan yang lebih baik bagi petani dan keluarganya.
            Keberadaan kelompok tani diharapkan dapat memfasilitasi antara  petani dengan programa penyuluhan pertanian yang mempunyai tujuan selaras yaitu peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. Oleh karena itu pembinaan kelompok tani perlu dilaksanakan secara lebih intensif, terarah dan terencana sehingga mampu meningkatkan peran dan fungsinya.
            Peranan kelompok tani akan semakin meningkat apabila dapat menumbuhkan kekuatan-kekuatan yang dimiliki dalam kelompok itu sendiri untuk dapat menggerakkan dan mendorong perilaku anggotanya ke arah pencapaian tujuan kelompok, sehingga kelompok tani  tersebut akan berkembang menjadi lebih dinamis. Agar kelompok tani dapat berkembang secara dinamis, maka harus didukung oleh seluruh kegiatan yang meliputi inisiatif, daya kreasi dan tindakan-tindakan nyata yang dilakukan oleh pengurus dan anggota kelompok tani dalam melaksanakan rencana kerja anggota kelompok yang telah disepakati bersama. Pada dasarnya dinamika anggota kelompok tani merupakan gerakan bersama yang dilakukan oleh anggota kelompok tani secara serentak dan bersamaan dalam melaksanakan seluruh kegiatan anggota kelompok tani dalam mencapai tujuannya, yaitu peningkatan hasil produksi dan mutunya yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan mereka (Suhardiono, 2005).


     
Desa Kalampising memiliki 6 (enam) kelompok tani yaitu, kelompok tani Tuntulipos 1,  Tuntulipos 2,  Tani mekar,  Yakionsoi,  Mekarbersatu,  Bilin nialionsoy. Keenam kelompok tani ini adalah kelompok tani pemula, yang terdiri dari pengurus dan anggota kelompok.       
 Adapun programa pembangunan yang ada di Kabupaten Nunukan sepenuhnya diserahkan kepada pihak penyuluh lapangan, sedangkan untuk dana pembangunan pertanian yang  diperlukan oleh penyuluh telah disediakan oleh pemerintah Kabupaten Nunukan. Dan penyuluh inilah yang merencanakan programa-programa pertanian yang akan diterapkan dimasyarakat, sehingga untuk mensukseskan programa tersebut perlu adanya partisipasi masyarakat serta kelompok tani yang ada di Desa Kalampising.
            Berdasarkan uraian tersebut diatas, penulis tertarik untuk meneliti tentang partisipasi anggota kelompok tani dalam programa penyuluhan di Desa Kalampising, Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan.

1.2.  Perumusan Masalah
            Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada bagian latar belakang penelitian, maka rumusan masalah dalam penelitian ini  adalah seberapa besar  tingkat partisipasi anggota kelompok tani dalam pembuatan programa  penyuluhan di Desa Kalampising, Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan.

1.3.   Tujuan Penelitian
            Ada pun tujuan dilakukan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat partisipasi anggota kelompok tani dalam programa penyuluhan di Desa Kalampising, Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan.

I.4.  Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
1.         Sebagai sumbangan informasi bagi kelompok tani agar dapat menjadi bahan pemikiran dalam berpartisipasi pada programaa penyuluhan.
2.         Sebagai bahan informasi bagi lembaga atau instansi terkait dalam mengambil kebijaksanaan terhadap programa-programa pertanian.
3.         Sebagai bahan perbandingan bagi peneliti lain yang ingin meneliti lebih lanjut, masalah yang erat hubungannya dengan masalah penelitian.

 II.  TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Partisipasi
            “Partisipasi” memiliki konotasi yang berbeda-beda untuk berbagai orang, sebagaimana terumus dalam pokok-pokok berikut (Kanisius,1999).
1.        Sikap kerja sama petani dalam pelaksanaan programa penyuluhan dengan cara menghadiri rapat-rapat penyuluhan, mendemonstrasikan metode baru untuk usaha tani mereka, mengajukan pertanyaan pada agen penyuluhan.
2.        Pengorganisasian kegiatan-kegiatan penyuluhan oleh kelompok-kelompok petani, seperti pertemuam-pertemuan tempat agen penyuluhan memberikan ceramah, mengelolah kursus-kursus demonstrasi, menerbitkan surat kabar tani yang ditulis oleh agen penyuluhan dan peneliti untuk petani.
3.        Menyediakan informasi yang diperlukan untuk merencanakan programa penyuluhan yang efektif.
4.        Petani atau para wakilnya berpartisipasi dalam organisasi jasa penyuluhan dalam pengambilan keputusan mengenai tujuan, kelompok sasaran, pesan-pesan dan metode, dan dalam evaluasi kegiatan.
5.        Petani atau organisasinya membayar seluruh biaya yang dibutuhkan jasa penyuluhan.
6.        Supervisi agen penyuluhan oleh anggota dewan organisasi petani yang mempekerjakannya.
Agar lebih memusatkan perhatian pada tafsiran yang keempat, ‘’partisipasi petani dalam pengambilan keputusan”,  tetapi tetap akan memperhatikan tafsiran kedua dan ketiga. Partisipasi menurut tafsiran kelima dan keenam akan di perhatikan saat mendiskusikan kerja organisasi swasta  dan swastanisasi organisasi penyuluhan. Dapat diketahui bahwa partisipasi melalui pengikutsertaan petani dapat menjadi cara yang lebih efisien untuk mencapai tujuan programa penyuluhan.
Pada dasarnya partisipasi didefinisikan sebagai keterlibatan mental atau pikiran dan emosi atau perasaan seseorang di dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan. Keterlibatan aktif dalam berpartisipasi, bukan hanya berarti keterlibatan jasmaniah semata. Partisipasi dapat diartikan sebagai keterlibatan mental,  pikiran,  dan emosi atau perasaan seseorang dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta turut bertanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan
Menurut   Davis (2005), ada tiga unsur penting partisipasi :
1.         Bahwa partisipasi atau keikutsertaan sesungguhnya merupakan suatu keterlibatan mental dan perasaan, tidak hanya semata-mata  keterlibatan secara jasmaniah.
2.        Kesediaan memberi sesuatu sumbangan kepada usaha mencapai tujuan kelompok. Ini berarti, bahwa terdapat rasa senang, kesukarelaan untuk membantu kelompok.
3. Unsur tanggung jawab. Unsur tersebut merupakan segi yang menonjol dari rasa menjadi anggota kelompok tani.
 Davis (2005),  juga mengemukakan jenis-jenis partisipasi, yaitu sebagai berikut:
1.        Pikiran (Psychological Participation)
2.        Tenaga (Physical Partisipation)
3.        Pikiran dan tenaga
4.        Keahlian
5.        Barang
Agar suatu partisipasi dalam kelompok tani dapat berjalan dengan efektif, membutuhkan persyaratan-persyaratan yang mutlak yaitu .
1.          Waktu untuk dapat berpartisipasi diperlukan waktu. Waktu yang dimaksudkan disini adalah untuk memahamai pesan yang disampaikan oleh pemimpin. Pesan tersebut mengandung informasi mengenai apa dan bagaimana serta mengapa diperlukan peran serta
2.          Bilamana dalam kegiatan partisipasi ini diperlukan dana perangsang, hendaknya dibatasi seperlunya agar tidak menimbulkan kesan “memanjakan”, yang akan menimbulkan efek negatif.
3.          Subyek partisipasi hendaknya relevan atau berkaitan dengan organisasi dimana individu yang bersangkutan itu tergabung atau sesuatu yang menjadi perhatiannnya.
4.          Partisipasi harus memiliki kemampuan untuk berpartisipasi, dalam arti kata yang bersangkutan memiliki ruang lingkup pemikiran dan pengalaman yang sama dengan komunikator, dan kalupun belum ada, maka unsur-unsur itu ditumbuhkan oleh komunikator.
5.          Partisipasi harus memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi timbal balik, misalnya menggunakan bahasa yang sama atau yang sama-sama dipahami, sehingga tercipta pertukaran pikiran yang efektif atau berhasil.
6.          Para pihak yang bersangkutan bebas di dalam melaksanakan peran serta tersebut sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan.
7.          Bila partisipasi diadakan untuk menentukan suatu kegiatan hendaknya didasarkan kepada kebebasan dalam kelompok, artinya tidak dilakukan pemaksaan atau penekanan yang dapat menimbulkan ketegangan atau gangguan dalam pikiran atau jiwa pihak-pihak yang bersangkutan. Hal ini didasarkan kepada prinsip bahwa partisipasi adalah bersifat persuasif Partisipasi dalam kelompok tani menekankan pada pembagian wewenang atau tugas-tugas dalam melaksanakan kegiatannya dengan maksud meningkatkan efektif tugas yang diberikan secara terstruktur dan lebih jelas.
2.2.  Pengertian Kelompok Tani
 Kelompok tani adalah kumpulan petani yang terikat secara non formal seperti sosial,  ekonomi,  sumber daya,  keakraban,  kepentingan bersama dan saling percaya serta mempunyai pimpinan untuk mencapai tujuan bersama (BPLPP,1990).
Selanjutnya anggota kelompok tani merupakan suatu bentuk perkumpulan petani yang berfungsi sebagai media penyuluhan dan dapat merupakan dasar untuk mencapai perubahan sesuai dengan tujuan penyuluhan. anggota kelompok tani yang telah menerima teknologi baru kiranya dapat mengikuti dan megubah tingkah lakunya, sehingga mampu untuk melaksanakan usaha tani sesuai dengan rekomendasi yang telah ditentukan (Santoso,1992).
Peranan tersebut merupakan upaya untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani dan upaya bersama antara pemerintah dan masyarakat tani dalam membangun pertanian di pedesaan.
Menurut Santoso (2004), pengertian  kelompok tani tersebut mengandung unsur:
1.             Kelompok tani merupakan wadah sekumpulan petani yang mempunyai kepentingan bersama dalam mencapai tujuan.
2.            Atas dasar kesadaran,  keakraban, kepentingan bersama dan saling percaya dan mempercayai merupakan dasar terbentuknya angggota kelompok tani.
3.            Sebagai wadah pernyataan aspirasi yang murni dari petani tersebut.
                                                                                      

2.3.              Fungsi  Kelompok Tani
            Menurut Kartosapoetra (1994),  kelompok tani terbentuk atas dasar kesadaran, jadi tidak secara terpaksa. Kelompok tani ini menghendaki terwujudnya pertanian yang baik, usahatani yang optimal dan keluarga tani yang sejahtera dalam perkembangan kehidupannya. Para anggota terbina agar berpandangan sama, berminat yang sama atas dasar kekeluargaan. Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa angggota kelompok tani berfungsi sebagai wadah terpeliharanya dan perkembangannya, pengertian pengetahuan dan keterampilan serta kegotong-royongan berusahatani para anggotanya.  Fungsi tersebut di jabarkan dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1.        Pengadaan sarana produksi murah dengan cara melakukan pembelian bersama.
2.        Pengadaan bibit yang resisten untuk memenuhi kepentingan para anggotanya.
3.        Mengusahakan kegiatan pemberantasan, pengendalian hama, penyakit secara terpadu.
4.        Guna kepentingan bersama berusaha memperbaiki prasarana-prasarana yang menunjang usahataninya.
5.        Guna memantapkan cara bertani dengan menyelengarakan demonstrasi cara bercocok tanam, pembibitan dan cara mengatasi hama yang di lakukan bersama penyuluh.
6.        Mengadakan pengolahan hasil secara bersama agar terwujudnya kualitas yang baik, beragam dan mengusahakan pemasaran secara bersama agar terwujudnya harga yang seragam
Penyuluh pertanian sebagai kontak tani dalam  kelompok tani  berfungsi sebagai pengarah,  pembimbing dan penasehat, serta memberi materi terhadap kegiatan kelompok. dan sebagai motor penggerak kelompok.
Menurut Marzuki (2004), ada tiga peranan penting dalam  kelompok tani  yaitu sebagai berikut:
1.        Media sosial atau media penyuluh yang hidup,  wajar dan dinamis.
2.        Alat untuk mencapai perubahan sesuai dengan tujuan penyuluh pertanian.
3.        Tempat atau wadah pernyataan aspirasi yang murni dan sehat sesuai dengan keinginan petani sendiri.
 Selanjutnya adanya programa penyuluhan diharapkan dapat memperbesar partisipasi anggota kelompok tani  seperti,  perbaikan usahatani, serta pendapatan tingkat kesejahteraan. Kemampuan setiap kelompok tani biasanya memiliki perbedaan baik keterampilan, pengetahuan maupun permodalan. Perbedaan tersebut muncul karena setiap petani memiliki karakteristik yang berbeda-beda, oleh karena itu perlu adanya kerjasama antar anggota dalam kelompok tani

III.  KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

3.1.   Kerangka Pemikiran
Seiring dengan perkembangan pembangunan pertanian,  agar efektif  dalam menjalankan programa penyuluhan, maka dibentuklah kelompok-kelompok tani yang diharapkan dapat berfungsi sebagai wadah yang dapat memotivasi petani sebagai anggotanya untuk lebih aktif dan berperan dalam berbagai kegiatan guna mengembangkan dan meningkatkan usahataninya. Pembinaan usahatani melalui kelompok tani tidak lain adalah sebagai upaya percepatan sasaran yaitu petani yang banyak jumlahnya dan kawasan pedesaan yang tersebar dan luas, sehingga dalam pembinaan kelompok diharapkan tumbuh cakrawala dan wawasan kebersamaan memecahkan dan merubah citra usahatani sekarang menjadi usahatani masa depan yang cerah.
Adapun programa pembangunan yang ada di Kabupaten Nunukan sepenuhnya diserahkan kepada pihak penyuluh lapangan, sedangkan untuk dana pembangunan pertanian yang  diperlukan oleh penyuluh telah disediakan oleh pemerintah Kabupaten Nunukan. Dan penyuluh inilah yang merencanakan programa-programa pertanian yang akan diterapkan dimasyarakat, sehingga untuk mensukseskan programa tersebut perlu adanya partisipasi masyarakat serta kelompok tani yang ada di desa Kalampising.


Penyuluh (PPL)
Program Penyuluhan
Kelompok Tani
-    Tuntulipos  1
-    Tuntulipos  2
-    Tanimekar
-    Yakionsoi
-    Mekarbersatu
-    Bilin nialionsoy
Tingkat Partisipasi

Tinggii

Sedang

Rendah

-       R A T
-       Pertemuan dan Kegiatan
-       Pembuatan Programa
-       Kinerja Kelompok

Gambar  1. Diagram alir penelitian partisipasi anggota kelompok tani dalam programa penyuluhan.

3.2  Hipotesis
Berdasarkan permasalahan yang ada, diduga bahwa tingkat partisipasi kelompok tani kurang berperan aktif dalam programa penyuluhan di Desa Kalampising, Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan.

IV.  METODE PENELITIAN

4.1.     Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini berlangsung bulan Januari sampai dengan bulan Maret 2011, dengan lokasi penelitian di Desa Kalampising, Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan.
4.2.    Definisi Operasional
Untuk memperoleh pengertian yang lebih jelas mengenai apa yang diteliti sehubungan dengan konsep yang telah dikemukakan, maka secara operasional dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.         Partisipasi adalah keterlibatan atau keikutsertaan anggota kelompok tani dalam pelaksanaan programa penyuluhan dengan cara menghadiri rapat-rapat penyuluhan, mendemonstrasikan metode baru untuk usahatani mereka.
2.         Anggota kelompok tani adalah kumpulan petani yang terikat secara non formal, seperti social, ekonomi, sumber daya, keakraban, dan kepentingan bersama dan saling percaya, serta mempunyai pimpinan untuk mencapai tujuan bersama.
3.          Programa penyuluhan adalah programa yang disusun oleh penyuluh pertanian untuk suatu wilayah kerjanya, mengenai kegiatan jangka pendek dan kegiatan jangka panjang.

4.         Penyuluh pertanian lapangan (PPL) adalah mediator bagi petani untuk mendapatkan informasi serta pengetahuan
4.3.      Metode Pengambilan Data
Data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan cara observasi langsung ke lokasi penelitian dan mengadakan wawancara langsung dengan responden yaitu dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuisioner) yang telah disusun dengan tujuan penelitian.
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari studi kepustakaan, laporan tahunan atau data statistik bulanan yang terkait meliputi Dinas Pertanian yaitu Balai Penyuluhan Pertanian Lapangan, Serta sumber-sumber lain yang mendukung penelitian ini.

4.4.  Metode Pengambilan Sampel
Di Desa Kalampising, Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan terdapat enam (6)  kelompok tani yang banyak mengusahakan  tanaman ubi kayu sebagai makanan pokok dan padi sawah sebagai tanaman musiman. Adapun nama-nama kelompok tani tersebut adalah: kelompok tani Tuntulipos 1 dengan anggota 18 orang, kelompok tani Tuntulipos 2 dengan anggota 24 orang, kelompok tani Tani mekar dengan anggota 16 orang, kelompok tani Yakionsoy dengan anggota 18 orang, kelompok tani Mekarbersatu dengan anggota 22 orang, dan kelompok tani Bilin nialionsoy dengan anggota 18 orang. Dari keenam anggota kelompok tani tersebut yang berjumlah 116 orang diambil sampel  dengan menggunakan  sampel acak sederhana (Simple Random Sampling). Salah satu cara untuk menentukan besarnya sample dalam suatu penelitian agar data representatif adalah dengan menggunakan tingkat kesalahan baku yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan tenaga dan waktu yang tersedia, dalam penelitian ini tingkat presesi yang digunakan sebesar 15%, menurut Rahmat (1997) untuk mengetahui jumlah sampel yang akan diambil digunakan rumus sebagai berikut :
n  =
N
N (d)2 +1

n  =
116
116 (0,0225)2+1
     n  =    32 orang    

Keterangan:
n    = ukuran sampel minimal
N   =  jumlah total anggota kelompok tani
d2   = tingkat presisi 15%
Dengan demikian jumlah sampel yang diambil sebagai responden adalah 32 orang, responden yang diambil sebagai sampel. Dalam penelitian ini sampel diambil dalam 6 kelompok tani (Stratum).  Untuk menghitung besarnya sampel tiap kelompok tani,  digunakan rumus seperti yang dikemukakan oleh Nasir (1999) sebagai berikut:
Dimana
ni         = Jumlah sampel dari strata (kelompok tani) ke-i
Ni        = Jumlah populasi dari strata (kelompok tani) ke-i
n          = Besar sampel yang diambil pada seluruh srtata
N         =  Jumlah populasi pada seluruh strata
Contoh sampel Kelompok tani Tuntulipos 1
                                                  = 4,10 = 5
Tabel 1. Data kelompok tani di desa Kalampising, Kecamatan Lumbis,      Kabupaten Nunukan.
No
Kelompok tani
Jumlah anggota
Jumlah sampel
2
Tuntulipos 1
18
5
2
Tuntulipos 1
24
7
3
 Tani mekar
16
4
4
Yakionsoi
18
5
5
Mekarbersatu
22
6
6
Bilin nialionsoy
18
5


N= 116
n = 32


4.5  Metode Analisis Data
Untuk mengetahui partisipasi anggota kelompok tani terhadap programa penyuluhan, digunakan metode Likert yaitu metode yang menjabarkan beberapa item pertanyaan yang disusun dalam  kuisioner dan setiap pertanyaan diberi skor senilai dengan pilihan responden  (James dan Dean,1992).
Untuk mengukur tingkat partisipasi anggota kelompok tani dalam programa
penyuluhan, digunakan tiga indikator, yaitu tinggi, sedang, rendah. Ketiga indikator tersebut dijabarkan dalam kuisioner dengan metode skoring (skala Likert), berikut ini tabel skor maksimum dan minimum tingkat partisipasi anggota kelompok tani.
Tabel 2. Skor Maksimum dan Minimum Tingkat Partisipasi Anggota Kelompok Tani di desa Kalampising           
No.
Tingkat Partisipasi Anggota
Kelompok Tani
Skor Minimum
Skor
Maksimum
1.
2.
3.

4.
Pastisipasi pada RAT
Partisipasi pada pertemuan dan kegiatan
Partisipasi pada pembuatan  programa penyuluhan
Tingkat kemampuan kinerja kelompok
4
4

4
4
12
12

12
12
Jumlah
16
48
 Sumber : Dirjen Pertanian Tanaman Pangan
Untuk menentukan interval kelas dapat menggunakan rumus (Suparman, 1996) sebagai berikut :
Dimana :
c          = Interval kelas
Xn        = Skor maximum
I        = Skor Minimum
k          = Jumlah kelas
Sehingga panjang interval kelas masing-masing tingkat partisipasi adalah : 
Tabel 3.  Interval Kelas Dan Tingkat Partisipasi Anggota Kelompok Tani
No.
Interval Kelas
Tingkat Partisipasi
1.
2.
3.
16 – 26
27 – 37
38 – 48
Rendah
Sedang
Tinggi

V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Keadaan  Umum Lokasi Penelitian

5.1.1. Letak adminisrtasi dan luas wilayah
            Desa Kalampising adalah salah satu desa yang ada diwilayah administrasi Kecamatan Lumbis berjarak  ± 2 km dari ibu kota Kecamatan Lumbis  81.000 km dari ibu kota Kabupaten Nunukan .  Desa Kalampising berada dijalur srtategis lintas Kabupaten dan Kecamatan;  jalur darat ke Nunukan – Kecamatan Sebuku Pembeliangan, jalur sungai ke Nunukan – Kecamatan Sembakung – Atap. 

Batas Wilayah Desa Kalampising meliputi:
-          Sebelah Utara            :  Desa Tanjung  Matol kecamatan Sembakung
-          Sebelah Selatan         :  Desa Mansalong Kecamatan Lumbis
-          Sebelah Timur           :  Desa Tanjung Hilir Kecamatan Lumbis
-          Sebelah Barat            :  Desa Libang Kecamatan Lumbis
  Berdasarkan data monografi Desa Kalampising tahun 2011,  luas wilayah Desa Kalampising  11.603 Ha  terdiri hamparan wilayah yang heterogen yang terdiri dari  pegunungan, bukit,  dan persawahan.

5.1.2. Keadaan Alam

            Keadaan topografi Desa Kalampising merupakan daratan pegunungan         (daratan kering, bergelombang) dengan tekstur tanah Alluvial terdapat di  sekitar pekarangan,kebun dan lahan kering (ladang). dan tanah gambut terdapat di persawahan dengan pH  tanah dominan 4-5 dengan tingkat kemasaman cukup tinggi, sedangkan topografi wilayah Desa Kalampising sebagian besar adalah berupa, dataran sedikit lereng dan rawa. Iklim di wilayah  Desa Kalampising beriklim sub tropis

5.1.3. Keadaan Iklim
            Temperatur udara tertinggi berkisar antara 27 0C – 30 0C  dan suhu terendah antara 18 0C – 24 0C dengan curah hujan rata-rata 250 mm perbulan dengan hari hujan rata-rata 10 hari perbulan. Curah hujan tertinggi biasanya pada bulan November, Desember, Januari dan Pebruari. Sedangkan bulan-bulan yang lain curah hujannya tergolong rendah sampai sekitar antara 60%-80%.

5.1.4. Kedaan Penduduk

Desa Kalampising  dipimpin oleh seorang Kepala Desa dengan jumlah penduduk pada tahun 2011, sebanyak 691 jiwa terdiri dari laki-laki 353 jiwa dan perempuan 338 jiwa dengan  jumlah 195 Kepala Keluarga  (KK).
Tabel 4. Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di Desa Kalampising tahun 2011.
No
 Jenis Kelamin
 Jumlah Penduduk (Jiwa)
Persentase %
1
Laki-laki
353
55,56
2
Perempuan
338
44,44

Jumlah
691
100
Sumber: Monografi Desa Kalampising Tahun 2011.
Berdasarkan  table di atas menunjukkan bahwa pertumbuhan penduduk menurut jenis kelamin laki-laki dengan jumlah 353 jiwa atau 55,56% pertumbuhan penduduk berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan untuk penduduk perempuan dengan jumlah 338 jiwa atau 44,44%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kelahiran di desa Kalampising berjenis kelamin laki-laki 2,17% dari pertumbuhan pendudk berjenis kelamin perempuan di lokasi penelitian.
Tabel. 5 Jumlah penduduk berdasarkan golongan umur di desa Kalampising Tahun 2011.
No
Kelompok Umur (Tahun)
Jumlah
Persentase %
1
 0  - 05
143
20,69
2
06 - 15
83
12,01
3
16 - 20
55
 7,95
4
21 - 30
105
15,19
5
31 - 40
115
16,64
6
41 - 50
137
19,82
7
51 - 60
43
6,22
8
60 
10
1,44
Jumlah
691
100%
Sumber: Monografi Desa Kalampising tahun 2011
Berdasarkan jumlah penduduk  menurut usia  dapat di lihat dari kelompok usia yang didominasi oleh golongan umur produktif berkisar antara 21-60 tahun dengan jumlah 400. Atau 57,89% untuk golongan usia produktif. Hal ini menunjukkan bahwa tinginya tingkat usia produktif yang ada di lokasi penelitian.
Tingginya tingkat usia produktif menunjukkan bahwa cukup tinggi usaha dalam bidang pertanian bagi masyarakat petani dapat berkembang lebih baik.
 Namun ada faktor lain dapat mempengaruhi salah satu, semakin tinggi tingkat usia produktif namun tidak didukung oleh tingkat pendidikan yang formal maka, tidak dapat merubah pola pikir yang tangkas bagi petani. Untuk mengetahui tingkat pendidikan di lokasi penelitian dapat di lihat pada Tabel 6 sebagai beriku
Tabel 6. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Kalampising tahun 2011.
No
Pendidikan
Jumlah (jiwa)
Persentase%
1
Belum Sekolah
121
17.51
2
Tidak Tamat SD
306
44,28
3
Tamat SD
194
28,07
4
Tamat SLTP
41
5,93
5
Tamat SLTA
21
3,03
6
Diploma D1-D3
2
0,28
7
Sarjana S1
6
0,86
Jumlah
691
100%






Sumber: Monografi Desa Kalampising tahun 2011
Berdasarkan Tabel 6 menunjukkan bahwa penduduk menurut tingkat pendidikan yang ada di Desa Kalampising dari Tabel 6  menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tidak tamat SD dengan jumlah 306 jiwa dengan prsentase 44,28% sedangkan tamat  SD berjumlah 194 jiwa dengan persentase 28,07% yang artinya tingkat pendidikaan di Desa Kalampising Kecamatan Lumbis Kabupaten Nunukan masih tergolong rendah. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk di lokasi penelitian masih memiliki pendidikan relatif rendah hal ini dapat mempengaruhi tingkat  usaha dan mata pencaharian petani.
Tabel 7. Jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian di Desa Kalampising tahun 2011.
No.
Mata Pencaharian
Jumlah (jiwa)
Persentase %
1
PNS/ABRI
6
1,36
2
Pedagang
9
2,04
3
Peternak
20
4,53
4
Petani
365
82,76
5
Buruh Industri
23
5,21
6
Buruh Bangunan
17
3,85
7
Pengusaha
1
0,22
              Jumlah
441
100%
 Sumber : Monografi desa Kalampising tahun 2011.
5.2. Karakteristik Responden
            Karakteristik merupakan latar belakang keadaan dari responden sebagai tanggapan dan langkah selanjutnya dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap 32 responden di Desa Kalampising   Kecamatan Lumbis Kabupaten Nunukan dengan menilai partisipasi kelompok tani, dalam  programa penyuluhan serta pengamatan langsung di lokasi penelitian, maka diperoleh gambaran karakteristik responden sebagai berikut:

5.2.1. Umur Responden
            Umur responden pada penelitian ini berkisar antara 31-62 tahun. Faktor umur akan mempengaruhi aktivitas kerja para petani dalam menjalankan usahataninya.  Petani yang memiliki umur relatif muda akan menunjukkan kerja yang lebihh produktif, karena memiliki  kemampuan yang lebih besar dalam mengelola usahataninya. Pengelompokkan responden di Desa Kalampising Kecamatan Lumbis Kabupaten Nunukan berdasarkan umur responden di lokasi penelitian dapat di lihat pada Tabel 8 berikut:
Tabel : 8 Klasifikasi tingkat umur responden di Desa Kalampising tahun (2011).
No
Umur
Jumlah
Persentase %
1
31-40
15
46,875
2
41-51
15
46,875
3
52-62
2
6,25
Jumlah
32
100%
Sumber : Data Primer diolah tahun 2011.
            Berdasarkan Tabel 8 dapat diketahui bahwa dari 32 responden terbesar pada interval 31- 40  tahun sebanyak  15  jiwa atau sebesar 46,875%, dan  pada interval 41- 51 tahun sebanyak 15 jiwa atau sebesar 46.875%  sedangkan untuk umur dari 32 responden terkecil pada interval 52-62  tahun yaitu sebanyak 2 jiwa atau sebesar 6,25%. Sedangkan dari 32 responden yang berada pada usia produktif terdapat pada interval umur 31-51 tahun dengan jumlah 30 jiwa atau sebesar 93,75%.
5.2.2. Pendidikan Responden
            Pendidikan mempunyai peranan penting bagi petani dalam melakukan kegiatan usahatani arti luas. Pendidikan merupakan pendidikan formal,  nonformal dan informal. Pendidkan dan pegetahuan petani yang tinggi, akan membangun cakrawala dan pola pikir dan sistem bertani yang lebih baik.
            Pendidikan yang lebih baik maka petani akan dengan mudah menyerap teknologi pertanian yang semakin berkembang dalam usahanya untuk meningkatkan hasil usahatani yang diupayakannya.
            Tingkat pendidikan merupakan faktor yang penting bagi petani dalam melakukan usahatani. Pendidikan dapat berpengaruh langsung pada kemudahan dalam mengadopsi teknologi-teknologi terapan yang berkembang dalam dunia usahatani.  Walaupun pendidikan yang petani miliki tidak di dapat sepenuhnya dari pendidikan formal melainkan lebih banyak diperoleh melalui eksperimen atau pengalaman dan belajar langsung kepada penyuluh dan teman-teman petani yang telah sukses. Secara formal pendidikan responden paling dominan adalah pada tingkat SD,  untuk lebih jelas dapat diperlihatkan pada Tabel 9.

Tabel 9.Klasifikasi responden berdasarkan tingkat pendidikan di Desa Kalampising tahun (2011).
No
Tingkat pendidikan
Jumlah (Jiwa)
Persentase %
1
SD/ Sederajat
24
75
2
SLTP/ Sederajat
6
18,75
3
SLTA/ Sederajat
2
6,25 
Jumlah
32
100%




Sumber : Data primer diolah tahun 2011.
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa dari tabel 9 menunjukkan tingkat pendidikan yang ada di lokasi penelitian masih tergolong rendah, atau dari 32 responden dengan jumlah 24 jiwa berpendidikan rendah atau tamatan SD  artinya 75% tingkat pendidikan di lokasi penelitian lebih didominasi tamatan SD.
Untuk tingkat pendidikan SLTP dalam kategori rendah dari 32 responden 6 jiwa yang berpendidikan atau tamatan SLTA atau 18,75% dari hasil penelitian. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang ada di lokasi penelitian masih dalam kategori rendah. Sedangkan untuk tingkat pendidikan SLTA/Sederajat dari 32 responden terdapat 2 jiwa yang berpendidikan SLTA atau 6,25% . Artinya dari segi pendidikan masyarakat desa Kalampising masih relatif rendah,

5.2.3. Tanggungan Keluarga Responden
            Jumlah tanggungan keluarga secara tidak langsung akan menjadikan petani lebih keras dalam melakukan usahatani, di samping akan menambah tenaga kerja keluarga. Tanggungan keluarga responden petani terdiri dari, istri, anak, dan sanak saudara.
            Tanggungan keluarga merupakan salah satu faktor mempengaruhi keputusan petani dalam melakukan kegiatan usahatani. Semakin banyak anggota keluarga yang ditanggung, maka semakin besar pula tuntutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
            Disisi lain semakin banyak tanggungan keluarga (keluarga yang banyak), akan membantu meringankan kegiatan usahatani yang dilakukan, karena sebagian besar petani masih menggunakan tenaga keluarga. Untuk lebih jelas mengenai tanggungan keluarga dapat di lihat pada Tabel 10 mengenai kelasifikasi responden tentang tanggungan keluarga di Desa Kalampising.
Tabel 10.Klasifikasi responden berdasarkan jumlah tanggungan keluarga di Desa Kalampising tahun (2011).
No
Tanggungan keluarga
Jumlah (Jiwa)
Persentase %
1
1 – 2
11
34,375
2
3 – 4
14
43,75
3
5 – 6
7
21,875
Jumlah
32
100%




Sumber : Data Primer diolah (2011).
            Data pada Tabel 10  menunjukkan bahwa jumlah tanggungan keluarga berkisar antra 3-4 jiwa dan dari 32 responden yang memiliki jumlah tanggungan keluarga terbanyak ada pada interval  3-4  yaitu sebanyak 14  jiwa atau sebesar 43.75% dari jumlah 32 responden yang ada.
            Jumlah tanggungan keluarga responden pada umumnya ada satu sampai dua orang yang berperan serta dalam mengelola usahatani, yaitu istri dan anak. Jumlah tanggungan keluarga secara tidak langsung akan menjadikan petani lebih keras dalam melakukan usahatani, di samping akan menambah tenaga kerja keluarga. Tanggungan keluarga responden petani terdiri dari istri, anak, dan sanak saudara.

5.3.   Keadaan Kelembagaan Kelompok Tani
Jumlah kelompok tani di Desa Kalampisisng sebanyak 6 (Enam) kelompok tani yang terbentuk dari tahun 2003 yang tergabung dalam 1 Gapoktan kelompok yang terbentuk pada tahun 2008. Dengan jumlah anggota petani yang terdapat dalam kelompok tani dalam Gapoktan adalah 116 orang dengan kelas kelompok tani pemula kecuali kelompok tani Tuntulipos 1 yang sudah meningkat menjadi kategori Madya. Hal ini dapat di lihat pada Tabel 11 di bawah ini mengenai klasifikasi kelompok tani yang ada di Desa Kalampising Kecamatan Lumbis Kabupaten Nunukan, sebagai berikut:
     Tabel 11. Klasifikasi kelas  kelompok tani di Desa Kalampising tahun 2011.
No
Kelompok Tani
Kelas
Kelompok tani
Jumlah
Anggota
1
Tuntulipos 1
Madya
18 orang
2
Tuntulipos 2
Pemula
24 orang
3
Tanimekar
Pemula
16 orang
4
Yakaionsoi
Pemula
18 orang
5
Mekarbersatu
Pemula
22 orang
6
Bilin nialionsoy
Pemula
18 orang
           Jumlah
116

















Sumber Badan Ketahana Pangan dan pelaksansan penyuluhan daerah  Kabupaten Nunukan tahun, 2011.

Pada Tabel 11 klasifikasi kelompok tani menunjukan bahwa sebagian besar kelompok tani yang ada masih dalam kategori kelompok tani pemula ini disebabkan rendahnya tingkat teknis dan permasalahan yang ada belum tertangani secara maksimal. Perbedaan kelas kelompok akan menunjukkan pula perbedaan tingkat kepemimpinan kontak tani, selanjutnya perbedaan kelas kelompok akan menunjukkan pula perbedaan tingkat partisipasi kelompok tani.
Hal ini menunjukkan bahwa kelas kelompok tani di lokasi penelitian kontak tani belum aktif, taraf pembentukan kelompok tani masih awal, pimpinan formal belum aktif, dan kegiatan kelompok bersifat informatif kecuali kelompok tani Tuntulipos 1 merupakan kategori kelompok tani madya.
Artinya kelompok tani menyelegarakan kerjasama usahatani sehamparan pimpinan formal kurang menonjol kontak tani dan kelompok tani bertindak sebagai pemimpin kerjasama usahatani sehamparan berlatih mengembangkan programa sendiri yang dimaksud dalam kelompok tani madya.

5.4.   Programa Penyuluhan
Dalam Undang-undang Nomor: 16 Tahun 2006 tentang sistem penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan (SP3K) mengamatkan bahwa penyelenggaraan penyuluhan menjadi wewenang dan tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah, menyelenggarakan Revitalisasi Penyuluhan Pertanian yang meliputi aspek penataan kelembagaan, ketenagaan,  penyelenggaraan, sarana dan prasarana serta pembiayaan penyuluhan. Programa penyuluhan pertanian merupakan rencana yang disusun secara sistematis untuk memberikan arahan dan pedoman sebagai alat pengendalian pencapaian tujuan penyuluhan. Programa penyuluhan pertanian yang disusun setiap tahun memuat rencana penyuluhan tahun berikutnya dengan memperhatikan siklus anggaran pada masing-msing tingkat cakupan pengorganisasian, pengolahan sumber daya sebagai pelaksanaan penyuluhan.  
5.4.1.   Rembug Penyuluhan Pertanian Penyusunan Programa Tingkat Desa
Tersusunnya programa tingkat Desa ini merupakan tingkat programa peyuluhan yang bertujuan untuk memfasilitasi keadaan Desa hal ini bertujuan agar meningatakan  kemampuan petani dalam mengembangkan tingkat dan pola pikir masyarakat Desa atau kelompok tani.

5.4.2.   Penyusunan Programa Tingkat Desa
Hal ini bertujuan untuk bekerja sama dengan aparatur Desa dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan penyuluhan.  Dimana upaya ini adalah supaya adanya kerja sama antara Desa dan aparatur PPL dalam menyusun programa penyuluhan yang nantinya sebagai bahan acuan untuk menjalankan programa penyuluhan di tingkat Desa Kalampisng.

5.4.3.   Kunjungan PPL Ke Kelompok Tani dan GAPOKTAN
Kunjungan PPL merupakan programa penyuluhan untuk mengembangkan dan meninjau persoalan-persoalan yang dihadapi oleh kelompok tani yang ada di Desa Kalampising, dan kunjungan ke kelompok tani maupun GAPOKTAN dilaksanakan setiap minggu mulai hari senin sampai dengan rabu setiap bulan.
Tujuan kunjungan ini untuk mengidentifikasi permasalahan petani, hal permasalahan teknologi, penyebarluasan informasi dan memberikan motivasi sedangkan hari kamis dan jumat adalah pelayanan konsultasi di BPP, tujuan adalah untuk shering permasalahan yang dihadapi serta pelayanan usulan kebutuhan petani.

5.4.4.   Pengendalian HPT
Programa penyuluhan ini bertujuan untuk melatih para petani untuk menggunakan cara pengendalian HPT sesuai dengan anjuran serta memperkenalkan cara penerapan masalah teknologi oleh petani untuk diterapkan.

5.4.5.   Pemupukan Modal (dana PUAP) secara bergulir
Pemupukan modal ini adalah salah satu programa penyuluhan pertanian yang bertujuan mengembangkan minat dan bakat petani dalam mengembangkan usaha kecil menengah dengan alokasi dana PUAP yang memberikan dana bangunan pinjaman ke petani untuk mengembangkan usaha kecil menengah.

5.4.6.   Pertemuan Rutin Bulanan PPL Sekecamatan Lumbis di BPP.
Kegiatan pertemuan yang diselengarakan merupakan bertujuan untuk meningkatkan keterpaduan programa kerja oleh penyuluh pertanian untuk disetiap wilayah binaan, agar penyuluh dapat menyampaikan informasi yang dihadapi dan mencari solusi untuk menyelesaikan masalah di wilayah binaannya.

5.4.7.   Penyuluhan Pemanfaatan Perkarangan.
Programa ini merupakan pembinana terhadap terhadap ibu-ibu PPK dalam pemanfaatan terhadap lingkungan dengan mengembangkan perkarangan untuk menanam tanaman apotik hidup, yang merupakan salah satu potensi yang ada di Desa Kalampising yang terdiri dari jahe, temulawak, lengkuas, kunyit, kencur dan kumis kucing. Tujuannya adalah agar pemanfaatan pekarangan secara intensif / optimal.

5.4.8.   Demplot Sayur-Sayuran
Komoditas sayur –sayuran selain untuk mencukupi kebutuhan konsumsi keluarga, juga merupakan salah satu sumber keuangan keluarga. Terbentuknya infrastruktur jalan darat antara Kabupaten.  Maka pemasaran hasil produksi sayuran semakin membaik di Desa Kalampising. Kondisi ini sedikit banyak merangsang petani untuk bercocok tanam sayuran.
Hal ini terdapat adanya persoalan yakni, kemampuan petani menerapkan konsep pemupukan belum secara berimbang, produksi rendah disebabkan oleh kemampuan petani bertani masih menggunakan cara tradisional. Maka programa Demplot ini bertujuan untuk membina petani untuk lebih kreatif dalam bertani.

5.4.9.   Pembuatan Pupuk Organik
Pengenalan masalah teknologi tepat guna dan ramah lingkungan ini merupakan salah satu tujuan programa penyuluhan yang diselengarakan oleh penyuluh pertanian di Desa Kalampising agar petani dilatih untuk pemanfaatan lingkungan dan limbah yang ada di lingkungan yang artinya petani tidak bergantung terhadap pupuk-pupuk kimia.

5.4.10. Demplot Padi.
Perkembangan luas panen dan produksi padi di Desa Kalampising pada tahun 2011 mengalami peningkatan dari tahun ke tahun sebelumnya yaitu dari 528 ha pada tahun 2010 menjadi 530 ha pada tahun 2011. Hal ini disebabkan karena adanya lahan potensial yang kembali digarap oleh masyarakat petani, Maka perlu dilakukan kegiatan pelatihan atau pembuatan demplot agar petani mampu bertani sesuai dengan anjuran yang diterapkan.

5.4.11. Penilaian Kelompok Tani
Programa penyuluhan ini merupakan ajang untuk menilai kemajuan tiap-tiap kelompok tani yang telah mengikuti kegiatan pembinaan dan sebelum pembinaan dan salah satu harapan adalah untuk meningkatkan kelas kelompok tani untuk kejenjang kelas kelompok tani yang lebih tinggi lagi.

5.4.12. Penyuluhan Tentang intensifikasi Menanam Padi 
Programa ini adalah  bertujuan melatih dan membinah kelompok tani agar melakukan pemanfaatan sesuai dengan intensifikasi biaya tenaga dan teknis. Agar petani lebih memahami perlu adanya penghematan dalam berusahataninya.

5.4.13. Pemantauan dan Pendataan Ternak
Masyarakat Desa Kalampising sebagian memiliki ternak untuk usahatani sampingan. Pada ternak sapi merupakan tabungan hidup untuk keluarga, dimana jika ada keperluan, maka ternak tersebut dapat dijual. Sedangkan ternak unggas biasanya dijadikan sumber pangan bagi keluarganya. Populasi ternak yang semakin meningkat maka perlu adanya pemantaun dan pendataan mengenai ternak milik masyarakat yang ada di Desa Kalampising.
5.4.14. Pembuatan Laporan Bulanan PPL
Pembuatan laporan bulanan merupakan kegiatan yang dilakukan oleh PPL dalam menyusun rencan kerja bulanan yang telah tercapai dilaksanakan serta hambatan-hambatan apa yang dihadapi oleh PPL di lapangan wilayah binaannya. Lapoaran kegiatan ini disampaikan ke dinas BPP untuk dipantau dalam kegiatan bulanan oleh PPL di wilayah tersebut.

5.5. Tingkat Partisipasi Anggota Kelompok Tani

5.5.1.   Partisipasi pada RAT
         Dari hasil yang diperoleh di lapangan, penelitian menunjukkan bahwa dalam rapat anggota tahunan (RAT) kurang optimal yang ada di lokasi penelitian, sehingga kurang dinamis keeratan anggota kelompok taninya. Disebabkan anggota kelompok tani kebanyakan  bekerja sebagai pengusaha kayu gaharu, dan kuli bangunan. Sehingga dalam rapat anggota jarang sekali menghadiri rapat anggota tahunan. Pada faktor lain disebabkan kurnag  aktif PPL dalam memantau kelompok taninya, dikarenakan kurangnya sarana dan prasarana yang memadai, salah satunya kendaran bagi PPL di lokasi penelitian. Pada hasil analisis dilihat bahwa tingkat partisipasi pada RAT skor rata-rata adalah 10,16  Lampiran 6.

5.5.2.   Partisipasi pada pertemuan dan kegiatan
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi pada pertemuan dan kegiatan masih dalam kategori rendah disebabkan, karena kesibukan pribadi dan bekerja sebagai kerja harian lebih diutamakan oleh anggota kelompok tani. Hal ini disebabkan karena mayoritas masyarakat bekerja dibidang pertanian.Dan kurangnya tenaga PPL yang ada di Desa Kalampising untuk membinah kelompok tani di Desa Kalampising. Dilain sisi didasari dengan kebiasaan masyarakat yang ada di Desa Kalampising masih menganut tradisi yang turun temurun, sistem bertaninya masih tradisional karena dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang masih rendah. Sehingga menyebabkan tingkat sosialnya kelompok tani rendah untuk menerima inovasi-inovasi baru.
Tingkat pendidikan yang lebih dominan adalah tamatan SD, sehingga peran serta masyarakat yang ada atau kelompok tani dengan masalah partisipasi dalam kegiatan-kegiatan soial di Desa Kalampising masih dikatakan rendah. Usaha pertanian bukan merupakan usaha pokok melainkan usaha samping.
 Kelembagaan petani belum berfungsi secara optimal, perhatian pemerintah Desa terhadap petani masih rendah. Sehingga perlu adanya impact  point  yang di laksanakan di Desa Kalampising salah satunya adalah memberikan penyuluhan kepada kelompok tani dan GAPOKTAN tentang tupoksi dan manajemen kelompok, memberikan informasi tentang kelembagaan yang sinergis, dinamika kelompok tani, pengkaderisasi dan reorganisasi, dan melakukan pertemuan rutin dari PPL ke anggota kelompok tani. Hasil analisis skor rata-rata tingkat partisipasi pada pertemuan dan kegiatan adalah 9,88 Lampiran 6.

5.5.3.   Partisipasi pada pembuatan  programa penyuluhan
Kelompok tani yang ada di lokasi penelitian cukup antusias dalam pembuatan programa penyuluhan, dengan dilihat antusias masyarakat atau kelompok tani dalam musyawarah bersama untuk membuat programa-programa yang di ajukan ke penyuluh pertanian, dengan adanya usulan-suslan petani pada saat membuat programa penyuluhan, seperti lebih meningkatkan kemampuan petani dalam mengelolah tanaman pangan, tanaman perkebunan, dan peternakan memperbaiki sarana produksi, mengajukan pembuatan irigasi yang optimal dalam bidang pertanian padi sawah saprodi dan infrastruktur. Namun sebagian kecil dari kelompok tani yang mendukung dengan diketahui dari hasil analisis hasil yang diperoleh skor rata-rata tingkat partisipasi kelompok tani dalam pembuatan programa penyuluhan pertanian adalah 9,88 Lampiran 6.

5.5.4.   Tingkat kemampuan kinierja kelompok
Gambaran mengenai tingkat kemampuana kinerja kelompok tani dari 32 responden yang diwawancarai, dari nilai rata-rata skor 9,875, Lampiran 6. Tingkat kemampuan kelompok tani dalam melaksanakan kinerja kelompok di Desa Kalampising masih bersifat individual, sehingga tingkat kemampuan mereka sangat terbatas. Hal ini disebabkan karena faktor pendidikan dan sistem  bertani yang masih bersifat tradisional. Dikarenakan PPL kurang menerapkan cara-cara becocok tanam yang baik bagi petani yang tergabung dalam 1 gapoktan.
        Dari hasil analisis pada Lampiran 6 menunjukkan bahwa tingkat partisipasi kelompok tani dari 4 indikator penialian adalah dalam kategori “Tinggi” yakni  dari 32 responden yang diwawancarai 25 orang atau 78% mengatakan “tinggi” dan 3 atau 9% dari 32 responden  yang diwawancarai menyatakan “Sedang” dan 4 atau 13% dari 32 responden yang diwawancarai menyatakan “Rendah” dengan nilai hasil rata-rata tingkat partisipasi anggota kelompok tani dalam programa penyuluhan pertanian di Desa Kalampising Kecamatan Lumbis Kabupaten Nunukan adalah 39,78 dalam kategori “Tinggi” Lampiran 6.
5.6.      Permasalahan Yang Dihadapi Kelompok Tani
5.6.1.   Sarana dan Prasarana Pertanian
Sarana dan prasarana pertanian yang selama ini menjadikan kendala dalam mendukung penyuluhan pertanian, seperti sarana yang ada kurang memadai, sehingga teknologi yang disampaikan penyuluh tidak bisa diterapkan oleh petani secara optimal. Prasarana pertanian yang diperlukan belum memadai yaitu tersedianya lahan usahatani kuhususnya lahan sawah yaitu jalan usahatani dan jaringan irigasi belum memadai.
5.6.2.   SDM/ Kelompok Tani
Aspek sosial usahatani belum mampu memenuhi kebutuhan ekonomi petani, sehingga petani tidak fokus pada usahatani yang menguntungkan. Harga saporodi yang tidak terjangkau oleh petani, pemasaran hasil produksi belum dilakukan secara berkelompok tapi masih ditangani secara peribadi sehingga mudah dipermainkan oleh pedagang. 
Anggota kelompok tani masih rendah tingkat kesadarannya dalam melaksanakan kesepakatan dan keputusan kelompok, tingkat kehadiran anggota kelompok tani dalam pertemuan belum optimal dan tidak rutin. Mengakibatkan kemandirian petani/ kelompok tani yang ada di Desa Kalampising dalam berusaha tani masih rendah karena kelembagaan masih lemah.
Pembagian tugas pengurus kelompok tani belum merata dan masih sangat tergantung kepada ketua. Kerjasama antara kelompok tani untuk melakukan usaha bersama dalam rangkah mendukung usahatani masih lemah. Dan tingkat kesadaran kelompok tani dalam pemeliharaan jaringan irigasi dan jalan usahatani masih rendah.

5.6.3.   Aspek Ekonomi
Sebagian besar petani / kelompok tani masih bersifat tradisional dengan modal, keterampilan dan pengetahuan serta teknologi terbatas/rendah. Kelompok tani belum menjadi kelompok solusi, sebagian besar dibentuk hanya untuk mengakses bantuan, sehingga tingkat kreativitas bertani belum terlihat.
Pemanfaatan modal pinjaman poktan dari Gapoktan untuk usahatani belum optimal, kemampuan pengurus kelompok tani dalam usaha agribisnis belum memadai. Belum tersedianya lembaga saporodi atau lembaga ekonomi pedesaan seperti kios saprodi dan KUD (Koperasi Unit Desa)

5.7.   Permasalahan Yang Dihadapi PPL Dalam
Pembuatan Programa Penyuluhan

              Adapun masalah yang dihadpi PPL kurangnya menerima pembekalan mengenai penyuluhan secara umum sehingga untuk menghadapi dan menyelesaikan permasalahan di lapangan lebih banyak didasarkan pada kreativitas sendiri. Kurang optimalnya kunjungan ke lapangan hal ini disebabkan karena kurangnya sarana operasional khususnya di Desa Kalampising. Kurangnya kunjungan supervisi  maupun monitoring dari tingkat Kabupaten, kurangnya kegiatan-kegiatan dari instansi terkait di tingkat Kecamatan sehingga sedikit banyak mempengaruhi kinerja PPL.


























VI. KESIMPULAN DAN SARAN


6.1.      Kesimpulan
1.             Hasil penelitian, dari 32 responden kelompok tani yang ada di Desa Kalampising Kecamatan Lumbis Kabupaten Nunukan, bahwa tingkat partisipasi anggota kelompok tani dalam programa penyuluhan menunjukan hasil dalam kategori “Tinggi” dengan nilai skor rata-rata tingkat partisipasi kelompok tani dengan programa penyuluhan dari 4 indikator penilaian adalah 39,7813 Lampiran 6.

6.2.      Saran
1.            Lebih ditingkatkan kegiatan Non Fisik yang meliputi peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang meliputi peningkatan pengetahuan,  keterampilan dan sikap (PKS). Dan perlu adanya disiplin kerja kelompok tani dengan aparat PPL.
2.            Dalam kegiatan Fisik, lebih ditingkatkan kemampuan kelompok tani dan kerjasama dan partisipasi anggota dalam penerapan teknologi sesuai anjuran,peran aktif anggota dalam mengikuti kegiatan-kegiatan yang di selenggarakan oleh PPL.
 
DAFTAR PUSTAKA

BPLPP, 1990. Dinamika kelompok tani. PT Bumi Aksara, Jakarta.
BIPP. 2001. Penilaian kelas kelompok tani nelayan. Balai Informasi dan Penyuluhan Pertanian, Balikpapan.

BK3P. 2011. (Badan Ketahanan pangan dan pelaksanaan penyuluh) Kabupaten Nunukan.

Data Monografi Desa Kalampising, 2011
Hernanto, F. 1995. Ilmu usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta.
James, A  dan  J.  Dean. 1992. Metode dan masalah penelitian sosial. Terjemahan: E. Koeswara. Bandung.
Kartasapoetra,A.G. 1994. Teknologi penyuluhan pertanian.Bumi Aksara. Jakarta.
Marzuki S. 2001. Pembinaan kelompok. Pusat Penerbit Universitas Terbuka. Jakarta.
Nazir, M. 1999. Metode penelitian.Ghalia. Jakarta.
Santoso S. 1992. Dinamika kelompok. Bumi Aksara Jakarta.
Santoso S. 2004. Dinamika kelompok. Edisi Revisi Cetakan 1.Bumi Aksara  Jakarta.
Suparman, I. A. 1990. Statistik sosial.Rajawali pres, Jakarta.
Suhardiyono, L. 1992. Penyuluhan petunjuk bagi penyuluhan pertanian. Erlangga. Jakarta.

Van den Ban.A.W, dan Hawkins.H.S. 1999. Penyuluhan pertanian. Kanisius. Yogyakarta.




3 komentar:

  1. thanx atas info2'a yah..

    BalasHapus
  2. ada gak skripsi yang judunya kepemimpinan kontak tani hubungannya dengan partisipasi anggota kelompok tani dalam kegiatan kelompok.

    BalasHapus
  3. Judul yang anda maksud tentu ada tapi identifikasi masalah dan studi kasu pendahuluan yang terlebi dahulu anda lakukan. Untuk merumuskan masalah.

    BalasHapus