Jumat, 22 April 2011

PERANAN KELOMPOK TANI DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN USAHATANI PADI SAWAH (Oryza sativa L.) DI DESA BUKIT PARIAMAN KECAMATAN TENGGARONG SEBERANG KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

1.     PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Negara Indonesia adalah Negara agraris yang sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah bercocok tanam. Kebijakan yang ditempuh pemerintah untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional diantaranya adalah dengan peningkatan kehidupan ekonomi yang dilakukan melalui pembangunan pertanian (Hernanto, 1995).
Pembangunan pertanian Indonesia telah dilaksanakan secara bertahap dan berkelanjutan dengan harapan dapat meningkatkan produksi pertanian semaksimal mungkin sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani dalam mencapai kesejahteraan, Peningkatan produksi pangan, peningkatan pendapatan dan keesejahteraan petani merupakan arah dan tujuan pembangunan pertanian (Sastraadmadja, 1985).
Potensi sosial ekonomi yang merupakan kekuatan sekaligus modal dasar bagi pengembangan produksi padi di Indonesia antara lain adalah: (i) beras merupakan bahan pangan pokok bagi 95 persen penduduk Indonesia, (ii) usahatani padi sudah merupakan bagian hidup dari petani di Indonesia sehingga menciptakan lapangan kerja yang besar, dan (iii) kontribusi dari usahatani padi terhadap pendapatan rumah tangga petani cukup besar. Sebagai bahan makanan pokok, beras akan terus  mempunyai permintaan pasar yang meningkat, sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Dari sisi petani, selama ada cukup air, petani di Indonesia hampir bisa dipastikan menanam padi. Karena bertanam padi sudah menjadi bagian hidupnya selain karena untuk ketahanan pangan keluarga, juga sebagai sumber pendapatan rumah tangga. Karena itu, usahatani padi akan terus dilakukan petani.
            Dari aspek sosial ekonomi, peluang eksternal yang mendukung upaya peningkatan produksi padi antara lain adalah: (i) peningkatan permintaan beras merupakan jaminan pasar bagi petani padi, (ii) sistem pemasaran beras yang stabil dan efisien sehingga persentase marjin pemasaran cukup kecil, dan (iii) subsidi sarana produksi (pupuk dan benih) sehingga dapat memperkecil biaya produksi. Ketiga faktor di atas merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan guna meningkatkan keuntungan usahatani padi dan meningkatkan daya saing usahatani padi. Semua peluang ini dapat meningkatkan motivasi petani dalam menanam padi (Irawan, 2003).
Desa Bukit Pariaman merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara yang memiliki luas wilayah 12.061 km2 dengan populasi penduduk pada tahun 2009 sebesar 6.024 jiwa dan jumlah KK sebesar 1.951 KK, yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani yang mengusahakan padi sawah, di Desa Bukit Pariaman Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara terdapat 826 petani yang mengusahakan padi (Oryza sativa L.) sawah yang tergabung dalam 24 kelompok tani. Desa Bukit Pariaman merupakan salah satu desa di Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara, yang cukup berhasil dalam mengembangkan sektor pertanian dan sangat potensial untuk menjadi daerah agribisnis.
Pembinaan usahatani melalui kelompok tani tidak lain adalah sebagai upaya percepatan sasaran. Petani yang banyak jumlahnya dan tersebar di pedesaan yang luas, sehingga dalam pembinaan kelompok diharapkan timbulnya cakrawala dan wawasan kebersamaan memecahkan dan merubah citra usahatani sekarang menjadi usahatani masa depan yang cerah dan tetap tegar. Adapun tujuan dibentuknya kelompok tani adalah untuk lebih meningkatkan dan mengembangkan kemampuan petani dan keluarganya sebagai subjek pembangunan pertanian melalui pendekatan kelompok agar lebih berperan dalam pembangunan. Kelompok tani merupakan suatu bentuk perkumpulan petani yang berfungsi sebagai media penyuluhan yang diharapkan lebih terarah dalam perubahan aktivitas usahatani yang lebih baik lagi. Aktivitas usahatani yang lebih baik dapat dilihat dari adanya peningkatan-peningkatan dalam produktivitas usahatani yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan petani sehingga akan mendukung terciptanya kesejahteraan yang lebih baik bagi petani dan keluarganya (BPLPP, 1990).
Berdasarkan gambaran diatas maka penulis tertarik untuk membuat penelitian tentang Peranan Kelompok Tani Dalam Meningkatkan Pendapatan Usahatani Padi (Oryza sativa L.) Sawah di Desa Bukit Pariaman Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara”.
1.2  Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Berapa besar peranan kelompok tani dalam usahatani padi (Oryza sativa L.) sawah di Desa Bukit Pariaman Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara ?
2.      Berapa besarnya pendapatan usahatani padi (Oryza sativa L.) sawah di Desa Bukit Pariaman Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara ?
3.      Bagaimana hubungan antara peranan kelompok tani terhadap pendapatan usahatani padi (Oryza sativa L.) sawah di Desa Bukit Pariaman Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara ?

1.3  Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah, maka penelitian ini bertujuan:
1.      Untuk mengetahui peranan kelompok tani dalam usahatani padi (Oryza sativa L.) sawah di Desa Bukit Pariaman Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara.
2.      Untuk mengetahui besarnya pendapatan usahatani padi (Oryza sativa  L.) sawah di Desa Bukit Pariaman Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara.
3.      Untuk mengetahui hubungan antara peranan kelompok tani terhadap pendapatan usahatani padi (Oryza sativa L.) sawah di Desa Bukit Pariaman Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara.

1.4  Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1.      Sebagai bahan informasi bagi kelompok tani di Desa Bukit Pariaman dalam upaya peningkatan pendapatan dan perbaikan taraf hidup petani.
2.      Sebagai bahan informasi dan pertimbangan bagi para pengambil kebijakan dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan masalah kelompok tani dalam rangka pembinaan dan pengembangan kelompok tani di pedesaan.
3.      Sebagai bahan informasi dan perbandingan bagi peneliti lain yang akan melanjutkan penelitian ini.







II. TINJAUAN PUSTAKA

2.I   Fungsi dan Peranan Kelompok Tani

 2.1.1 Pengertian Kelompok Tani
Kelompok tani adalah kumpulan petani yang terikat secara non formal dan di bentuk atas dasar kesamaan, kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumberdaya), keakraban dan keserasian, serta mempunyai pimpinan untuk mencapai tujuan bersama (Dinas Pertanian Tanaman Pangan, 2002).
Kelompok tani merupakan suatu bentuk perkumpulan petani yang berfungsi sebagai media penyuluhan. Kelompok tani sebagai media penyuluhan bertujuan untuk mencapai petani tangguh yang memiliki keterampilan dalam menerapkan inovasi, mampu memperoleh tingkat pendapatan guna meningkatakan kualitas hidup sejajar dengan profesi yang lain, mampu menghadapi resiko usaha, mampu memanfaatkan asas skala usaha ekonomi, memiliki kekuatan mandiri dalam menghadapi pihak-pihak lain dalam dunia usaha sebagai salah satu komponen untuk membangun pertanian maju, efisien dan tangguh sebagaimana dimaksud dalam GBHN Tahun 1993.

2.1.2 Fungsi Kelompok Tani
Menurut Kartosapoetra (1994), kelompok tani terbentuk atas dasar kesadaran, jadi tidak secara terpaksa. Kelompok tani ini menghendaki terwujudnya pertanian yang baik, usahatani yang optimal dan keluarga tani yang sejahtera dalam perkembangan kehidupannya. Para anggota terbina agar berpandangan sama, berminat yang sama dan atas dasar kekeluargaan.
Dari uraian diatas, dapatlah dikatakan bahwa kelompok tani berfungsi sebagai wadah terpeliharanya dan berkembangnya pengertian, pengetahuan dan keterampilan serta gotongroyongan berusahatani para anggotanya. Fungsi tersebut dijabarkan dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1.      Pengadaan sarana produksi murah dengan cara melakukan pembelian secara bersama.
2.      Pengadaan bibit yang resisten untuk memenuhi kepentingan para anggotanya.
3.      Mengusahakan kegiatan pemberantasan atau pengendalian hama dan penyakit secara terpadu.
4.      Guna kepentingan bersama berusaha memperbaiki prasarana-prasarana yang menunjang usahataninya.
5.      Guna memantapkan cara bertani dengan menyelenggarakan demonstrasi cara bercocok tanam, pembibitan dan cara mengatasi hama yang dilakukan bersama penyuluh.
6.      Mengadakan pengolahan hasil secara bersama agar terwujudnya kualitas yang baik, beragam dan mengusahakan pemasaran secara bersama agar terwujudnya harga yang seragam.
Fungsi penyuluh pertanian dengan kontak tani dalam kelompok tani adalah sebagai berikut:  
1.      Penyuluh pertanian berfungsi sebagai pengarah, pembimbing dan penasehat serta memberi materi guna kegiatan kelompok.
2.      Kelompok tani berfungsi sebagai motor penggerak kelompok tersebut dengan mengembangkan pengaruhnya.
Ada tiga peranan penting dalam kelompok tani, yaitu sebagai berikut:
1.      Media sosial atau media penyuluh yang hidup, wajar dan dinamis.
2.      Alat untuk mencapai perubahan sesuai dengan tujuan penyuluh pertanian.
3.      Tempat atau wadah pernyataan aspirasi yang murni dan sehat sesuai dengan keinginan petani sendiri.
Selanjutnya dijelaskan bahwa perlunya penyuluhan sehingga dapat memperbesar kemampuan dan peranan kelompok tani dalam berbagai hal, yaitu menyangkut perbaikan usahatani serta tingkat kesejahteraan. Kemampuan setiap petani pada kelompok biasanya ada perbedaan baik keterampilan, pengetahuan maupun permodalan. Oleh karena itu atas perbedaan karakteristik petani, maka perlu adanya kerjasama dalam kelompok tani.

2.1.3     Kemampuan dan Ciri-ciri Kelompok Tani
Berdasarkan tingkat kemampuan kelompok tani, dikenal empat kelas kemampuan kelompok tani dengan ciri-ciri untuk setiap kelompok (Dinas Pertanian Tanaman Pangan, 2002) adalah sebagai berikut:
1.    Kelompok Pemula:
a.       Kontak tani masih belum aktif.
b.      Taraf pembentukan kelompok masih awal.
c.       Pimpinan formal.
d.      Kegiatan kelompok bersifat informatif.
2.   Kelompok Lanjut:
a.       Kelompok ini menyelenggarakan kegiatan-kegiatan terbatas.
b.      Kegiatan kelompok dalam perencanaan.
c.       Pimpinan formal aktif.
d.      Kontak tani mampu memimpin gerakan kerjasama kelompok tani.
3.      Kelompok Madya:
a.       Kelompok tani menyelenggarakan kegiatan kerjasama usaha.
b.      Pimpinan formal kurang menonjol.
c.       Kontak tani dan kelompok tani bertindak sebagai pimpinan kerjasama usahatani.
d.      Berlatih mengembangkan program sendiri.
4.   Kelompok Utama:
a.       Hubungan melembaga dengan koperasi/ KUD.
b.      Perencanaan program tahunan untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan.
c.       Program usahatani terpadu.
d.      Program diusahakan dengan usaha koperasi/ KUD.
e.       Pemupukan modal dan pemilikan atau pengunaan benda modal.

2.2        Produksi dan Biaya Produksi

2.2.1 Produksi
Produksi merupakan sesuatu yang diperoleh sebagai akibat bekerjanya faktor produksi (input) secara sekaligus yaitu tanah, modal, tenaga kerja dan manajemen (Mubyarto, 1994).
Produksi yaitu proses kombinasi dan koordinasi material-material dan kekuatan-kekuatan (input, faktor produksi, sumber daya atau jasa-jasa produksi) dalam pengelolaan suatau barang atau jasa (output atau produk) (Beattie dan Taylor, 1996). Ditambahkan oleh Daniel (2002), bahwa produksi adalah sejumlah hasil dalam satu lokasi dan waktu tertentu. Produksi adalah setiap usaha yang menciptakan atau memperbesar daya guna barang (Rosyidi, 2001). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa produksi yaitu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh hasil produksi yang maksimal dengan menggunakan faktor produksi untuk memperbesar nilai.
Sedangkan menurut Sudarman (1992), produksi adalah semua aktifitas untuk menciptakan barang dan jasa. Ditambahkan Mubyarto (1994), bahwa fungsi produksi adalah suatu fungsi yang menunjukkan hubungan antara hasil produksi fisik (Output) dengan faktor produksi (Input).

2.2.2 Biaya Produksi
Biaya produksi adalah semua faktor produksi yang digunakan baik dalam bentuk benda ataupun jasa selama produksi berlangsung (Soekartawi, 1991).
Menurut Daniel (2002), menyatakan bahwa biaya produksi adalah sebagai kompensasi yang diterima pemilik faktor-faktor produksi, atau biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam proses produksi, baik secara tunai maupun tidak tunai. Biaya tetap adalah jenis biaya yang besar kecilnya tidak tergantung pada besar kecilnya produksi, misalnya sewa yang berupa uang, sedangkan biaya variabel adalah biaya yang besar kecilnya berhubungan dengan besarnya produksi, misalnya bibit, pupuk, obat-obatan dan sebagainya.

2.3        Penerimaan dan Pendapatan

2.3.1. Penerimaan
Penerimaan adalah hasil penjualan dari sejumlah barang tertentu yang diterima atas penyerahan sejumlah barang kepada pihak lain. Jumlah penerimaan didefinisikan sebagai penerimaan dari penjualan barang tertentu yang diperoleh dari jumlah barang yang terjual dikalikan dengan harga penjualan setiap satuan (Soedarsono, 1995).
Menurut Mosher (2002), bahwa penerimaan di bidang pertanian adalah produksi yang dinyatakan dalam bentuk uang tunai sebelum dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan selama kegiatan usahatani. Ditambahkan Mubyarto (1994) Penerimaan dibidang pertanian adalah hasil yang diharapkan akan diterima petani pada saat panen. 

2.3.2. Pendapatan
            Pendapatan adalah hasil bersih dari kegiatan suatu usahatani yang diperoleh dari hasil bruto (kotor) dikurangi biaya yang digunakan dalam proses produksi dan biaya pemasaran (Mubyarto, 1994).
            Menurut Soekartawi (2004), bahwa pendapatan dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1.   Pendapatan Kotor (Penerimaan) usahatani
Adalah nilai produksi total usahatani dalam jangka waktu tertentu baik yang dijual, dikonsumsi oleh rumah tangga petani, dan disimpan digudang pada akhir tahun.
2.      Pendapatan bersih usahatani
Adalah selisih antara pendapatan kotor usahatani dengan biaya produksi seperti upah buruh, pembelian bibit, obat-obatan dan pupuk yang digunakan oleh usahatani.

2.4  Tinjauan Umum Tanaman Padi (Oryza sativa L.) sawah
Padi merupakan tanaman yang cocok ditanam di lahan tergenang, akan tetapi padi juga baik ditanam di lahan tanpa genangan, asal kebutuhan airnya tercukupi. Oleh karena itu, padi dapat tumbuh baik di daerah tropis maupun subtropis dengan dua jenis lahan utama, yaitu lahan basah (sawah) dan lahan kering (ladang). Tanaman padi termasuk golongan rumput-rumputan dengan klasifikasi sebagai berikut: (Wikipedia Indonesia, 2008) :

Kingdom         : Plantae
Divisio             : Spermathophyta
Kelas               : Angiospermae
Sub kelas         : Monocotyledone
Ordo                : Graminales
Famili              : Graminaceae
Sub family       : Oryzidae
Genus              : Oryza
Spesies            : Oryza sativa L.
Padi termasuk golongan tanaman semusim atau tanaman muda yaitu tanaman yang biasanya berumur pendek, kurang dari satu tahun dan hanya satu kali berproduksi dan setelah berproduksi akan mati atau dimatikan. Tanaman padi berakar serabut, batang yang beruas-ruas dengan tinggi 1-1,5 m tergantung pada jenisnya. Ruas batang padi berongga dan bulat, diantara ruas batang padi terdapat buku, pada tiap- tiap buku terdapat sehelai daun. Bunga padi merupakan bunga telanjang dan berkelamin dua, bentuk bulir padi panjang dan ramping (Wikipedia Indonesia, 2008).
Menurut AAK (2003), iklim merupakan faktor penting untuk pertumbuhan tanaman padi. Tanaman padi tumbuh baik di daerah berhawa panas dan tempatnya terbuka serta banyak sinar matahari, terutama padi pada masa berbunga. Temperatur optimum untuk pertumbuhan dan perkembangannya adalah antara 20-30 C. padi memerlukan curah hujan rata-rata 200 mm/bulan atau lebih. Curah hujan yang cocok untuk padi bisa tumbuh dengan baik adalah 1500-2000 mm/tahun. Tanah yang baik untuk tanaman padi sawah adalah berstruktur lemah dan mengandung liat. Tanah lapisan atas antara 15-30 cm harus merupakan lumpur yaitu suatu struktur butir tanah yang serba sama dan dapat menahan air.
Menurut Suparyono dan Agus (1997), agar dapat meningkatkan produktivitas usahatani khususnya padi sawah maka tahapan-tahapan dalam penanaman padi harus dilakukan dengan baik. Tahapan-tahapan tersebut yaitu :
1.  Persiapan Benih
Benih termasuk faktor penentu keberhasilan pembudiyaan tanaman. Penggunaan benih yang bermutu tinggi akan dapat mengurangi resiko kegagalan usahatani (Sutopo, 2004). Dalam memproduksi benih, perlu diperhatikan kualitas benih antara lain kemurnian, daya kecambah, kotoran, bebas dari hama dan penyakit, serta kadar air.
2.      Persemaian
      Persemaian harus terlebih dahulu dilakukan sebelum tanaman padi ditanam. Penyemaian dilakukan setelah benih mengalami proses perendaman dan  pemeraman selama masing-masing 48 jam. Perendaman bertujuan untuk mendapatkan benih yang baik dan gabah yang menyerap air yang cukup untuk kepeluan perkecambahan. Pemeraman bertujuan agar benih dapat berkecambah. Benih yang sudah berkecambah kemudian disebar di atas lahan persemaian yang sebelumnya telah dipupuk dengan pupuk kandang dan disemprot dengan insektisida sebanyak 2 kali.
3.      Pengolahan Tanah dan Pemupukan Dasar
      Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan cara dibajak atau dicangkul. Pengolahan tanah dapat mematikan gulma yang kemudian akan membusuk menjadi humus dan aerasi tanah menjadi lebih baik (Pitijo, 2006). Dalam pengolahan tanah, dilakukan pemupukan dasar berupa pupuk Urea sebanyak 1/3 dosis/ha, sedangkan pupuk TSP dan KCl diberikan seluruh dosis. Jadi bila dalam satu hektar sawah akan dipupuk dengan dosis 300 kg Urea, 100 kg TSP, dan 100 kg KCl maka pupuk dasar yang diberikan 100 kg Urea, 100 kg TSP, dan 100 kg KCl.
4.      Penanaman
        Penanaman padi didahului dengan pencabutan bibit dipersemaian. Bibit yang siap ditanam adalah bibit yang sudah berumur 25-40 hari dan berdaun 5-7 helai. Menurut Sugeng (1989), penanaman bibit padi sawah dilakukan dengan cara bagian pangkal batang dibenamkan kira-kira 3 atau 4 cm ke dalam lumpur. Penanaman padi yang baik menggunakan jarak tanam 20 cm x 20 cm atau 30 cm x 15 cm.
5.      Pemeliharaan
        Setelah penanaman, tanaman padi perlu diperhatikan secara cermat dan rutin. Pemeliharaan terhadap tanaman padi antara lain meliputi (Sugeng, 1989) :



a.       Pengairan
              Air merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan tanaman padi sawah. Saat pengairan tanaman padi di sawah dalamnya air harus diperhatikan dan disesuaikan dengan umur tanaman.
b.      Penyulaman dan penyiangan
               Penyulaman bertujuan agar populasi tanaman per satuan luas tanam tidak berkurang dengan mengganti rumpun-rumpun yang mati dan dilakukan 5-7 hari setelah tanam. Penyiangan dilakukan agar tanaman utama bebas dari gulma. Penyiangan biasanya dilakukan dua kali. Penyiangan pertama dilakukan setelah padi berumur 3 minggu dan yang kedua dilakukan setelah padi berumur 6 minggu. Penyiangan tidak hanya dilakukan dengan mencabut gulma saja melainkan sekaligus menggemburkan tanah agar akar tanaman dapat berkembang dengan baik.
c.       Pemupukan
              Pemupukan bermaksud untuk memperbaiki kesuburan tanah dengan menambah zat-zat dan unsur hara makanan yang dibutuhkan tanaman di dalam tanah. Pemupukan sebaiknya dilakukan dua kali. Pemupukan pertama pada umur 3-4 minggu setelah penyiangan. Pupuk yang digunakan adalah Urea dengan dosis 1/3 dari sisa 2/3 dosis yang diberikan sebelum tanam. Pemupukan kedua dilakukan pada umur 6-8 minggu setelah penyiangan dengan dosis yang sama pada saat pemupukan pertama.

d.      Pengendalian hama dan penyakit
                Tanaman padi sering dirugikan karena adanya gangguan hama dan penyakit. Hama yang sering menyerang tanaman padi adalah wereng, penggerek batang, walang sangit, ulat grayak, kepik hijau, tikus sawah, dan burung. Penyakit yang sering menyerang tanaman padi adalah penyakit yang umumnya disebabkan oleh jamur, bakteri, virus, dan nematoda. Pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan dengan menerapkan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu. Pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara penggunaan varietas unggul yang tahan terhadap hama dan penyakit, melakukan penanaman serempak, melakukan pergiliran tanaman, dan penyemprotan dengan pestisida yang efektif dan bijaksana.
6.  Panen dan Pasca panen
            Panen merupakan tahapan akhir penanaman padi sawah. Menurut Pitijo (2006), waktu panen berpengaruh terhadap jumlah produksi, mutu gabah dan mutu beras yang akan dihasilkan. Menurut AAK (2003), proses pemasakan butir padi ada empat stadia yaitu stadia masak susu, stadia masak kuning, stadia masak penuh, stadia masak mati. Panen dapat dilakukan pada stadia masak kuning yaitu pada saat butir padi 95% telah menguning atau sekitar 33-36 hari setelah berbunga dan bagian bawah malai masih terdapat sedikit gabah hijau.
            Panen dapat dilakukan dengan menggunakan sabit. Caranya dengan memotong batang kira-kira 20 cm di atas permukaan tanah. Setelah panen, selanjutnya gabah dirontokkan. Perontokan dapat dilakukan dengan cara manual maupun dengan menggunakan alat. Cara manual, gabah dipukul atau dihempaskan pada bambu atau kayu. Alat perontok yang dapat digunakan antara lain pedal dan power thresher. Pembersihan dilakukan setelah gabah dirontokkan. Pembersihan dimaksudkan untuk menghilangkan benda asing, butir hampa, dan kotoran lainnya. Cara yang biasa digunakan adalah menggunakan ayak atau menampih (AAK, 2003).
            Pengeringan dilakukan untuk menurunkan kadar air gabah yang pada waktu panen berkisar 23-27% menjadi 13-14% agar dalam penyimpanan gabah dapat tahan lama serta meringankan pengangkutan sebab berat gabah telah berkurang (AAK, 2003). Pengemasan barang dimaksudkan untuk mempertahankan mutu dan memudahkan penyimpanan serta pengangkutan.
III. KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS


3.1 Kerangka Pemikiran
Pembangunan pertanian tidak terlepas dari peran serta masyarakat tani. Dengan peran yang sangat penting sebagai pemutar roda perekonomian negara, maka perlu pemberdayaan masyarakat tani, sehingga petani mempunyai power yang mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Salah satu usaha pemerintah bersama petani dalam rangka membangun upaya kemandiriannya telah dibentuk kelompok-kelompok tani di pedesaan. Kelompok tani dapat dikelompokkan berdasarkan jenjang kelas kemampuan kelompok yang terdiri dari kelas pemula, kelas lanjut, kelas madya dan kelas utama.
Tujuan pembangunan pertanian adalah meningkatkan produksi tanaman pangan baik secara kuantitatif maupun kualitatif sebagai upaya mencapai swasembada pangan. Selain itu diharapkan dengan peningkatan produksi dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan pendapatan petani dan perluasan kesempatan kerja sesuai dengan tujuan pembangunan pertanian yang tangguh, maju dan efisien yang dicirikan oleh kemampuan dalam mensejahterakan keluarganya.
Peranan kelompok tani dapat dimainkan setiap waktu oleh pemimpin kelompok maupun oleh anggota lainnya. Pemimpin kelompok tani dengan kata lain pengurus dalam kelompok memiliki peran sebagai koordinator dimana mereka yang menjelaskan atau menunjukan hubungan antara berbagai pendapat dan saran, yang mencoba mempersatukan pendapat dan saran-saran atau mencoba mengkoordinir kegiatan anggota atau sub kelompok.
Desa Bukit Pariaman merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara, yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani yang mengusahakan padi sawah. Di Desa Bukit Pariaman terdapat 826 orang petani yang mengusahakan padi sawah, yang tergabung dalam 24 kelompok tani. Melalui peranan kelompok tani yang ada di Desa Bukit Pariaman diharapkan dapat meningkatkan pendapatan  petani padi sawah, pengukuran peranan kelompok tani terhadap peningkatan pendapatan usahatani padi sawah menggunakan 5 indikator, yaitu : daya serap informasi, proses perencanaan, kerjasama dalam melaksanakan rencana, kegiatan belajar, hubungan melembaga dengan koperasi/ KUD. Untuk lebih jelasnya silahkan lihat bagan kerangka pemikiran pada Gambar 1. 

Peranan
Kelompok Tani
Usahatani padi sawah di Bukit Pariaman
Produksi
Penerimaan
Indikator :
1.      Daya serap informasi
2.      Proses perencanaan
3.      Kerjasama dalam melaksanakan rencana
4.      Kegiatan belajar
5.      Hubungan melembaga dengan koperasi/ KUD
Pendapatan
 
Gambar 1.  Bagan kerangka pemikiran peranan kelompok tani dalam meningkatkan
                  Pendapatan usahatani padi (Oryza sativa  L.) sawah.

3.2  Hipotesis
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :  
1.      Peranan kelompok tani dalam usahatani padi (Oryza sativa L.) sawah di Desa Bukit Pariaman Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara tinggi.
2.      Terdapat hubungan yang erat antara peranan kelompok tani dengan pendapatan usahatani padi (Oryza sativa L.) sawah di Desa Bukit Pariaman Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara.

IV. METODE PENELITIAN

4.1  Waktu dan Tempat penelitian
            Penelitian ini akan dilaksanakan kurang lebih tiga bulan yaitu mulai bulan Februari 2011 sampai dengan bulan April 2011, dengan lokasi penelitian di Desa Bukit Pariaman Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara.

4.2 Definisi Operasional
    Untuk memperoleh pengertian yang lebih jelas mengenai apa yang diteliti   sehubungan dengan konsep yang telah dikemukakan, maka secara operasional dapat dijabarkan sebagai berikut :
1.   Responden adalah anggota kelompok tani yang menanam padi (Oryza sativa L.) sawah di Desa Bukit Pariaman Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara.
2.   Tingkat peranan kelompok tani adalah tingkat kemampuan petani yang tergabung dalam kelompok tani yang dihitung dengan memberikan skor berdasarkan bobot masing-masing indikator yang telah ditentukan, yaitu sebagai berikut:
a.    Daya serap informasi.
b.   Proses perencanaan.
c.    Kerjasama dalam melaksanakan rencana.
d.   Kegiatan belajar mengajar.
e.    Hubungan melembaga dengan koperasi/ KUD.
3.   Biaya produksi yang dikeluarkan meliputi:
a.       Biaya sarana produksi, terdiri dari biaya pupuk dan pestisida (Rp mt-1).
b.      Biaya penyusutan alat, dihitung dengan membagi harga alat dengan umur teknis alat tersebut (Rp mt-1).
c.       Harga jual padi sawah yang berlaku adalah harga yang disepakati bersama antara petani (Rp per ton).
4.   Penerimaan dihitung dari berdasarkan jumlah padi sawah yang dijual dikalikan dengan harga per ton (Rp mt-1).
5.   Pendapatan dihitung dari selisih antara total penerimaan hasil produksi dengan total pengeluaran selama proses produksi (Rp mt-).

4.3 Metode Pengambilan Data
Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan cara observasi langsung ke lokasi penelitian dan mengadakan wawancara langsung dengan responden dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah disusun susuai dengan tujuan penelitian. Sedangkan data sekunder diperlukan untuk menunjang data primer yang diperoleh dari PPL, studi kepustakaan, lembaga-lembaga atau instansi- instansi terkait seperti Dinas Pertanian dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang mendukung penelitian ini.



4.4 Metode Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan sampel acak sederhana (Simple Random Sampling). Di Desa Bukit Pariaman terdapat 826 petani yang mengusahakan padi (Oryza sativa L.) sawah, salah satu cara untuk menentukan besarnya sampel dalam suatu penelitian agar data refresentatif adalah dengan menggunakan tingkat kesalahan baku yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan, tenaga, biaya, dan waktu yang tersedia, sehingga peneliti menetapkan untuk menggunakan tingkat presisi sebesar 15%.
Menurut Rakhmat (1995), cara pengambilan sampel dapat menggunakan rumus sebagai berikut :
Dimana :
n          : Jumlah sampel
N         : Jumlah Populasi
d          : Tingkat Presisi (15%)
Di Desa Bukit Pariaman Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara terdapat 24 kelompok tani, yang terdiri dari  kelompok tani  kelas       pemula, lanjut, dan madya. Masing-masing kelas tersebut diambil 1 kelompok tani yang memiliki anggota kelompok terbanyak dan setiap kelompok yang terpilih masing-masing diambil 14 orang, sehingga jumlah keseluruhan responden sebanyak 42 orang.
4.5 Metode Analisis Data
Tingkat peranan kelompok tani diukur dengan menggunakan 5 indikator yang diperoleh dari tingkat kemampuan kelompok tani untuk pembinaan kelompok tani. Tingkat kemampuan kelompok diukur dengan 5 tolak ukur/ jurus kemampuan (Dirjen Pertanian Tanaman Pangan, 1992), yaitu:
a.       Kemampuan merencanakan kegiatan untuk meningkatkan produktivitas usahatani.
b.      Kemampuan melaksanakan dan mentaati perjanjian dengan pihak lain.
c.       Kemampuan pemupukan modal dan pemanfaatan pendapatan secara rasional.
d.      Kemampuan meningkatkan hubungan yang melembaga antara kelompok tani dengan koperasi/ KUD.
e.       Kemampuan menerapkan teknologi dan pemanfaatan informasi serta kerjasama kelompok.
            Penggunaan kelima indikator kemampuan untuk mengukur tingkat peranan kelompok tani tersebut menggunakan metode Likert, yaitu menjabarkan kelima indikator tersebut menjadi beberapa item pertanyaan yang telah disusun dalam kuisioner dan setiap item pertanyaan diberikan skor sesuai dengan pilihan responden (James dan Dean, 1992).
            Adapun rincian skor tingkat peranan kelompok tani tersebut diperlihatkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Skor penilaian tingkat peranan kelompok tani.
No
Indikator
Skor Minimum
Skor Maksimum
1
Daya serap informasi
5
25
2
Proses perencanaan
5
25
3
Kerjasama dalam melaksanakan rencana
5
25
4
Kegiatan belajar mengajar
5
25
5
Hubungan melembaga dengan koperasi/  KUD
4
20

Total Skor
24
120
Sumber : Dirjen Pertanian Tanaman Pangan, 1992
Menurut Suparman (1990) untuk mengetahui banyaknya interval kelas yang diperlukan maka tingkat peranan kelompok tani dibedakan menjadi tiga kelas (rendah, sedang dan tinggi) dapat ditentukan dengan menggunakan rumus yaitu:
C  =
Xn – Xi
=
120 - 24
= 32
K
3
Keterangan :
C         = Interval Kelas
K         = Jumlah Kelas
Xn       = Skor maksimum
Xi        = Skor minimum
Hasil perhitungan diatas dapat dipergunakan untuk membuat kategori tingkat peranan kelompok tani.
Tabel 2. Kategori tingkat peranan kelompok tani
No
Interval Kelas
Tingkat Peranan Kelompok Tani
1
24,00-56,00
Rendah
2
57,00-89,00
Sedang
3
90,00-120,00
Tinggi

Sedangkan menurut Mubyarto (1994) untuk mengetahui tingkat pendapatan usahatani padi sawah digunakan rumus sebagai berikut :
                       
I   =   TR  -  TC
Keterangan :
I           = Income (pendapatan)
TR       = Total revenue (total penerimaan)
TC       = Total cost (total biaya, terdiri dari biaya tetap dan tidak tetap)
TC       = TFC + TVC
            Dari rumus diatas, dapat diperoleh rumus sebagai berikut :
                        I  = (P. Q) – (TFC + TVC)
Keterangan :
P          = Price (harga)
Q         = Quantity (jumlah produksi)
TFC     = Total Fixed Cost (jumlah biaya tetap)
TVC    = Total Variabel Cost ( jumlah biaya tidak tetap)
            Sedangkan untuk mengetahui hubungan peranan kelompok tani terhadap tingkat pendapatan usahatani padi sawah, digunakan analisis Chi-Square2) dengan rumus Siegel (1990) yaitu :
Keterangan :
Oij  =  Jumlah observasi untuk kasus yang dikategorikan dalam baris ke-i  pada kolom ke-j
Eij   =  Banyaknya kasus yang diharapkan dibawah Ho untuk dikategorikan dalam baris ke-i pada kolom ke-j
            Berdasarkan rumus diatas dibuat tabel Chi-Square untuk menentukan banyaknya frekuensi tingkat peranan kelompok tani dan tingkat pendapatan seperti yang tercantum pada Tabel 3. 

Tabel 3. Hubungan Peranan Kelompok Tani Dalam Meningkatkan Pendapatan Usahatani Padi (Oryza sativa L.) sawah di Desa Bukit Pariaman Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara.

Peranan  Kelompok Tani
Tingkat Pendapatan
Jumlah
Tinggi
Sedang
Rendah

O11

O12

O13

0

Tinggi










E11

E12

E13

E1

O21

O22

O23

0

Sedang










E21

E22

E23

E2

O31

O32

O33

0

Rendah

E31

E32

E33

E3
Jumlah
EA
EB
Ec
E

Setelah χ2 hitung didapat, kemudian dibandingkan dengan χ2 tabel (db ; α = 0,05) dengan kaidah keputusan :
-          Jika χ2 hitung ≤ χ2 tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak berarti tidak terdapat hubungan antara peranan kelompok tani terhadap pendapatan usahatani padi sawah.
-          Jika χ2 hitung ≥ χ2 tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima berarti terdapat hubungan antara peranan kelompok tani terhadap pendapatan usahatani padi sawah
  Selanjutnya untuk mengetahui hubungan antara peranan kelompok tani terhadap tingkat pendapatan diukur dengan menggunakan koefisien korelasi Rank-Spearman (Siegel, 1990). Koefisien korelasi Rank Spearman digunakan untuk mengukur derajat erat tidaknya hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya.
           Adapun rumus yang digunakan untuk mencari koefisien korelasi Rank Spearman, yaitu :
Keterangan :
Rs        = Koefisien Rank-korelasi (Spearman)
n          = Menunjukkan jumlah pasangan observasi antara satu variabel terhadap       variabel lain
D         = Merupakan perbedaan ranking yang diperoleh pada tiap pasangan observasi
            Sehingga untuk menghitung t hitung dengan n > 10 digunakan uji statistik menggunakan rumus :
Dengan menggunakan derajat bebas (db) = N – 2 dan α = 0,05 dengan kaidah keputusan ( Hipotesisnya) :
Jika t hitung   t tabel (α = 0,05), maka Ho diterima dan Ha ditolak,
                                                  Sehingga dengan kaidah keputusan tidak terdapat hubungan yang erat antara peranan kelompok tani dengan   pendapatan usahatani padi (Oryza sativa L.) sawah.
Jika t hitung   t tabel  (α = 0,05), maka Ho ditolak Ha diterima,
                                                  Dengan kaidah keputusan terdapat hubungan yang erat antara peranan kelompok tani dengan pendapatan usahatani padi (Oryza sativa L.) sawah.
DAFTAR PUSTAKA

AAK. 2003. Budidaya tanaman padi. Kanisius, Yogyakarta.
Badan Pendidikan dan Latihan Penyuluh Pertanian. 1990. Gema Penyuluhan   Pertanian no. 34 Departemen Pertanian Republik Indonesia, Jakarta.

Beattie, B.R, dan C.R. Taylor. 1996. Ekonomi Produksi diterjemahkan oleh Soeratno Josohardjono. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Daniel, M. 2002. Pengantar ekonomi pertanian. Bumi Aksara, Jakarta.
Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Kalimantan Timur. 2002. Petunjuk Pengembangan, Bimbingan Penyuluhan dan Kelembagaan Kelompok Tani,  Samarinda.
Dirjen Pertanian Tanaman Pangan Kalimantan Timur. 1992. Petunjuk pelaksanaan pembinaan kelompok tani, Kalimantan Timur.
Hernanto, F. 1995. Ilmu usahatani. Penebar Swadaya, Jakarta.
Irawan. B. 2003. Konversi Lahan Sawah di Jawa dan Dampaknya terhadap Produksi Padi (Land Conversion in Java and its impact on rice production) in Kasryno et al. (Eds). Ekonomi Padi dan Beras Indonesia (Indonesian Rice Economy).
Indonesian Agency for Agricultural Research and Development, Jakarta.
James, A dan J. Dean. 1992. Metode dan masalah penelitian social. Terjemahan E. koeswara. Eresco, Bandung.
Kartasapoetra, A.G. 1994. Teknologi penyuluhan pertanian. Bumi Aksara, Jakarta.
Mosher, A.T. 2002. Menggerakkan dan membangun pertanian. Bumi Aksara, Jakarta.
Mubyarto. 1994. Pengantar ekonomi pertanian. LP3ES, Jakarta.
Pitijo, S. 2006. Budidaya padi sawah tabela. Penebar Swadaya, Jakarta.


4 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mas/ bang saya boleh minta gambar kerangka pemikirannya? klo boleh, saya juga minta kuesionernya. hehe. terima kasi sebelumnya

      Hapus
  2. maaf mas saya boleh minta kuisioner dan gambar kerangka pemikirannya? trimakasih :)

    BalasHapus
  3. KISAH NYATA..............
    Ass.Saya PAK.ANDRI YUNITA.Dari Kota Surabaya Ingin Berbagi Cerita
    dulunya saya pengusaha sukses harta banyak dan kedudukan tinggi tapi semenjak
    saya ditipu oleh teman hampir semua aset saya habis,
    saya sempat putus asa hampir bunuh diri,tapi saya buka
    internet dan menemukan nomor Ki Dimas,saya beranikan diri untuk menghubungi beliau,saya dikasi solusi,
    awalnya saya ragu dan tidak percaya,tapi saya coba ikut ritual dari Ki Dimas alhamdulillah sekarang saya dapat modal dan mulai merintis kembali usaha saya,
    sekarang saya bisa bayar hutang2 saya di bank Mandiri dan BNI,terimah kasih Ki,mau seperti saya silahkan hub Ki
    Dimas Taat Pribadi di nmr 081340887779 Kiyai Dimas Taat Peribadi,ini nyata demi Allah kalau saya bohong,indahnya berbagi,assalamu alaikum.

    KEMARIN SAYA TEMUKAN TULISAN DIBAWAH INI SYA COBA HUBUNGI TERNYATA BETUL,
    BELIAU SUDAH MEMBUKTIKAN KESAYA !!!

    ((((((((((((DANA GHAIB)))))))))))))))))

    Pesugihan Instant 10 MILYAR
    Mulai bulan ini (juli 2015) Kami dari padepokan mengadakan program pesugihan Instant tanpa tumbal, serta tanpa resiko. Program ini kami khususkan bagi para pasien yang membutuhan modal usaha yang cukup besar, Hutang yang menumpuk (diatas 1 Milyar), Adapun ketentuan mengikuti program ini adalah sebagai berikut :

    Mempunyai Hutang diatas 1 Milyar
    Ingin membuka usaha dengan Modal diatas 1 Milyar
    dll

    Syarat :

    Usia Minimal 21 Tahun
    Berani Ritual (apabila tidak berani, maka bisa diwakilkan kami dan tim)
    Belum pernah melakukan perjanjian pesugihan ditempat lain
    Suci lahir dan batin (wanita tidak boleh mengikuti program ini pada saat datang bulan)
    Harus memiliki Kamar Kosong di rumah anda

    Proses :

    Proses ritual selama 2 hari 2 malam di dalam gua
    Harus siap mental lahir dan batin
    Sanggup Puasa 2 hari 2 malam ( ngebleng)
    Pada malam hari tidak boleh tidur

    Biaya ritual Sebesar 10 Juta dengan rincian sebagai berikut :

    Pengganti tumbal Kambing kendit : 5jt
    Ayam cemani : 2jt
    Minyak Songolangit : 2jt
    bunga, candu, kemenyan, nasi tumpeng, kain kafan dll Sebesar : 1jt

    Prosedur Daftar Ritual ini :

    Kirim Foto anda
    Kirim Data sesuai KTP

    Format : Nama, Alamat, Umur, Nama ibu Kandung, Weton (Hari Lahir), PESUGIHAN 10 MILYAR

    Kirim ke nomor ini : 081340887779
    SMS Anda akan Kami balas secepatnya

    Maaf Program ini TERBATAS hanya 5 orang.
    DANA GAIP KIYAI DIMAS KANJENG TAAT PERIBADI

    BalasHapus